Menggunakan Analisis Persoalan Potensial Untuk Usaha Kecil Menengah

Usaha kecil menengah disadari atau tidak merupakan salah satu penopang perekonomian nasional. Setiap tahunnya banyak usaha kecil yang tumbuh dan di waktu yang bersamaan banyak juga usaha kecil menengah yang tumbang, k arena tidak diiringi dengan kemampuan yang matang oleh sang pemilik usaha tersebut seringkali usaha kecil itu stuck tidak mengalami pengembangan atau bahkan langsung mengalami kebangkrutan. Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang analisis persoalan potensial atau yang bisa kita singkat menjadi APP.

Langkah APP ini saya ketahui saat sedang membaca buku terbitan tahun 1986 karya B.N. Marbun S.H yang berjudul kekuatan dan kelemahan perusahaan kecil yang baru saja saya pinjam hari ini dari perpustakaan. Sedikit mengulas tentang buku tersebut, terdapat banyak tulisan yang mengedepankan alasan dan  solusi dari permasalahan-permasalahan bagi perusahaan kecil di masa tersebut. Selain itu buku ini juga membahas apa saja sebenarnya masalah dari perusahaan kecil. Adapun langkah APP ini sangat menarik perhatian saya karena dapat membantu pengusaha kecil dalam mengetahui dan mengantisipasi apa saja permasalahan yang akan terjadi saat sedang merintis usaha.  Tulisan ini banyak yang saya ketik ulang dari buku tersebut dengan perubahan seperlunya dan penambahan opini pribadi.

Jika dikutip dari bukunya, langkah APP berpangkal dari pertanyaan kritis dan mendasar tentang kemungkinan lahirnya atau timbulnya persoalan yang akan menimpa bahkan mengagaglkan usaha kamu di masa depan. Dengan demikian kamu dapat memikirkan sejak awal untuk mengantisipasi, mengurangi, hingga menyingkirkan persoalan kalau ternyata muncul.

Berikut ini adalah langkah Analisis Persoalan Potensial menurut B.N. Marbun yaitu memajukan serangkaian pertanyaan yang tajam, kritis, hingga menyakitkan, kurang ajar dan di luar dugaan.  Dari pertanyaan tersebut kita dapat menilai merumuskan dan menganalisa kemungkinan timbulnya persoalan pada usaha kita dan mempersiapkan upaya serta langkah-langkah untuk mengatasinya.

Kita ambil contoh perusahaan pabrik topi yang ingin memperluas usahanya, apakah perusahaan tersebut mempunyai peluang untuk berkembang atau bahkan tidak akan mampu bertahan. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah:

  1. Siapa pesaing kita? Bagaimana dengan usaha mereka dilihat dari sumber daya keuangan dan manusia serta jangkauan pasar mereka.
  2. Bagaimana kalau terdapat inovasi baru untuk menutup kepala dan orang-orang meninggalkan pemakaian topi?
  3. Bagaimana kalau muncul teknologi baru dalam pembuatan topi?
  4. Bagaimana mengahadapi penjualan topi dari luar negeri?
  5. Dan seterusnya

Pengusaha harus menganalisa pertanyaan dan menyiapkan jawaban dan dari hasil ini dapat disimpulkan apakah wajar (feasible) mengembangkan perusahaan topi miliknya. Apabila banyak jawaban negatif, maka harus dianalisa lebih lanjut fakta yang mungkin membantu atau menyiapkan langkah penyelamatan jika bahaya itu muncul. Apabila setelah melewati langkah APP dan pengembangan usaha masih dianggap wajar, maka langkah selanjutnya adalah untuk mengevaluasi diri sendiri dan situasi apakah kita mampu menghadapinya. Semakin pertanyaan yang kita buat, maka akan semakin mendalam analisa yang kita lakukan sehingga mendapatkan hasil yang terbaik sebagai persiapan menghadapi persoalan perusahaan di masa yang akan datang.

Analisis Persoalan Potensial ini harus dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab dan dapat dilakukan dengan bantuan ahli atau konsultan agar menghindari kekeliruan dan risiko karena kurangnya kemampuan dan pengalaman kamu. Dengan analisis serta perencanaan yang baik dan bertanggungjawab, kemungkinan keberhasilan menghadapi persoalan dalam mengembangkan usaha semakin besar.

Berkunjung ke Museum Pengkhianatan PKI / Monumen Pancasila Sakti

IMG_20151220_134444

Pintu masuk gedung Museum Pengkhianatan PKI

Museum Pengkhianatan PKI terletak di lokasi yang cukup strategis, hanya beberapa ratus meter dari Asrama Haji Pondok Gede. Berada di dalam suatu kompleks yang luas di Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Saya berkunjung ke Museum ini dengan menggunakan Motor dari arah bekasi. Museum ini sangat mudah ditemukan, karena pintu gerbang kompleks utamanya terletak di pinggir jalan raya pondok gede, pada gerbang utama yang berbentuk gapura terdapat tulisan Monumen Pancasila Sakti, karena Museum Pengkhianatan PKI masih satu kompleks dengan Monumen Pancasila Sakti. Sekitar seratus meter dari gerbang utama terdapat pos penjaga, saya membayar uang untuk masuk ke kompleks ini sejumlah Rp. 5000. Setelah membayar, saya langsung lurus menyusuri jalan, terdapat beberapa signage yang menunjukkan wilayah parkir khusus bus, mobil dan motor. Jarak dari pos penjaga hingga parkiran motor cukup jauh, sekitar 600 Meter. Lahan parkir untuk motor terletak langsung di lingkungan gedung Museum Pengkhianatan PKI. Parkir motor disini saya mengambil karcis dan saat pulang tidak dilakukan pengecekan STNK serta diharuskan membayar Rp. 2000. Setelah memarkirkan motor, kemudian saya bergegas mencari toilet. Toilet terdapat diluar gedung Museum, toilet ini mudah ditemukan karena terdapat beberapa signage yang menunjukan lokasi toilet. Namun saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam toilet karena hanya mengantarkan teman, dikenakan biaya seikhlasnya setelah menggunakan toilet ini. Dekat dengan Toilet terdapat sebuah kantin yang menjual berbagai pernak-pernik souvenir yang bercorak TNI, kantin ini juga menjual makanan dan minuman.

IMG_20151220_134942_compressed

Pada gedung utama Museum di depan pintunya terdapat miniatur kompleks Museum dan terdapat 2 buah tempat sampah di sisi kiri dan kanan pintu masuk Museum serta signage larangan merokok. Terdapat Plakat peresmian di sisi dinding dekat pintu masuk, yang berisikan informasi bahwa Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) diresmikan oleh Presiden Soeharto di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1992. Memasuki ruangan pertama disajikan gambar korban pemberontakan dan penggalian korban, di sisi kanan pada pintu masuk terdapat kantin yang menjual makanan dan minuman ringan dan souvenir seperti topi dan kaos bercorak TNI dan Monumen Pancasila Sakti. Didalam ruangan ini juga terdapat signage larangan merokok dan terdapat AC diatas pintu masuk serta dilengkapi CCTV diatas gambar foto. Di dalam ruangan pertama yang saya masuki ini terdapat pasangan suami istri yang sedang mengambil foto.

IMG_20151220_142618_compressed

Anak kecil yang sedang mengabadikan salah satu diorama yang terdapat di dalam Museum Pengkhianatan PKI

Ruangan-ruangan selanjutnya menyajikan diorama yang diurutkan dari awal pemberontakan PKI hingga penumpasannya. Diorama ini terdapat didalam sebuah ruang transparan yang dilapisi kaca, namun sedikitnya pencahayaan membuat diorama didalamnya agak susah dilihat karena terpantul bayangan dari luar. Setiap diorama memiliki informasi dengan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Disertai juga foto yang berkaitan dengan diorama tersebut. Seluruh diorama seolah-olah hanya menggambarkan sisi buruk dari PKI dengan segala pemberontakan yang mereka lakukan. Mungkin karena saya mengunjungi Museum ini pada hari minggu dan memang sudah masuk musim libur sekolahan, saat saya mengunjungi museum ini terdapat banyak pengunjung, kebanyakan dari mereka adalah keluarga besar dan pasangan muda, banyak dari mereka yang mengambil foto dari diorama dan bahkan menjadikan diorama sebagai objek foto seseorang dari mereka. Setiap beberapa meter di dinding Museum terdapat fire extinguisher dan hydrant sebagai bentuk antisipasi jika terjadi kebakaran. Pada satu sisi di lorong Museum terdapat kolam hias yang tidak menyala. Terdapat CCTV di langit-langit lorong museum tiap sisi tertentu. Lorong dan diorama gedung pertama Museum ini cukup panjang dan terletak di dua lantai.

IMG_20151220_143009_compressed

Kantin di dalam gedung Museum Pengkhianatan PKI

Satu gedung tampaknya tidak cukup untuk menggambarkan diorama PKI, di lantai dua terdapat lorong penghubung tanpa dinding ke gedung kedua Museum. Di lorong ini kita bisa melihat pemandangan yang cukup bagus dengan melihat kondisi luar Museum dari atas. Kantin juga tersedia di dalam gedung Museum yang kedua dilengkapi dengan kursi panjang yang berguna sebagai tempat istirahat bagi para pengunjung. Terdapat toilet yang diperuntukkan bagi pengunjung Namun toilet di dalam Museum ini memiliki aroma yang tidak sedap, ruangan yang kurang bersih dan WC yang tidak berfungsi, tetapi air masih menyala. Di dekat toilet ini disediakan kotak uang namun tidak ada yang menjaganya. Di beberapa sisi dinding tedapat kutipan-kutipan kalimat seperti pidato ataupun ucapan terkait pemberontakan PKI. Pada salah satu dinding terdapat foto sepuluh pahlawan revolusi keganasan G30S PKI tahun 1965. Sebelum pintu keluar gedung ini, saya melewati Ruang Tunggu VIP namun didalamnya hanya ruangan kosong. Begitu keluar dari gedung ini, terdapat pintu masuk ke gedung selanjutnya yang terdapat pakaian para korban G30S PKI.

IMG_20151220_145230_compressedIMG_20151220_142641_compressed

Saat memasuki gedung yang ketiga ini, saya langsung memasuki ruangan di sebelah kanan yaitu ruang benda bersejarah / relik. Ternyata di dalam ruangan ini tidak hanya terdapat pakaian dan bekas darah seperti yang dituliskan pada signage, namun juga terdapat koleksi barang lainnya milik para korban G30S PKI seperti sepeda, tongkat, stik golf dan barang-barang lainnya. Di tengah-tengah ruangan ini terdapat site plan dari Monumen Pancasila Sakti. Setelah puas dengan ruangan ini saya bergegas kembali ke lorong. Di depan ruangan ini terdapat ruangan teater pemutaran film pemberontakan G30S PKI, namun ruangan ini ditutup, mungkin hanya buka pada waktu tertentu. Di salah satu sisi sebelah kanan dinding menuju ruangan berikutnya terdapat ucapan pembangkit semangat. Ruangan selanjutnya yang saya masuki yaitu ruangan di sebelah kanan yang merupaka ruang pameran foto dokumenter, berbeda dengan ruangan sebelumnya yang cukup ramai, saat saya memasuki ruangan ini tidak ada pengunjung yang memasukinya. Di depan ruangan ini atau di sebelah kiri dari lorong terdapat ruang dokumenter dan perpustakaan. Setelah ruangan ini saya menyusuri lorong dan tidak ada ruangan lagi hingga pintu keluar gedung. Setelah keluar dari Gedung museum terakhir terdapat panser yang merupakan kendaraan untuk membawa jenazah pahlawan revolusi dari markas besar angkatan darat ke makam pahlawan kalibata pada tanggal 5 oktober 2015.

Terdapat banyak informasi tentang sejarah yang akan didapatkan setelah mengunjungi Museum ini terlebih tentang Pemberontakan PKI. Setelah mengunjungi museum ini, saya menuju Monumen Pancasila Sakti yang terletak didepan Museum. Di lingkungan monumen ini terdapat Sumur tempat pembuangan para Pahlawan Revolusi yang dibunuh oleh PKI, Rumah penyiksaan, Dapur Umum Pemberontak PKI dan Monumen Pancasila Sakti.

IMG_20151220_145247_compressed

Kalimat pembangkit semangat yang terdapat di beberapa sudut museum

Ulasan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri

Cerpen berjudul Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri memiliki tema cerita sosial agama, cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi. Menceritakan tentang Ustadz Bachri yang kedatangan teman lamanya bernama hardi yang merupakan seorang pelukis. Hardi menemui Ustadz Bachri untuk silaturahmi dan berbincang-bincang mengenai kaligrafi. Ustadz Bachri sangat antusias menyambutnya. Namun ternyata Hardi hanya membahas aliran seni dan teknik melukis tanpa mengetahui aturan penulisan khat Arab. Hardi menuturkan bahwa ia hanya menggambar dengan mencontoh kitab Quran dan kitab dengan tulisan Arab lainnya. Ia menggambarkan kaligrafi sesuai dengan makna yang terkandung dalam ayat yang diketahui lewat terjemahan Quran kemudian dilukiskan ke dalam bentuk tertentu disertai pemandangan yang sesuai.

Dari ringkasan awal cerpen Lukisan Kaligrafi diatas dapat disimpulkan bahwa masih banyak manusia yang asal dalam melakukan suatu hal untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dalam hal ini Hardi hanya menggunakan lukisan kaligrafi untuk mencari keuntungan, karena kaligrafi memiliki nilai jual yang tinggi. Hardi menganggap bahwa tidak perlu mengetahui aturan atau falsafah mengenai khat Arab, hanya cukup dengan memberikan makna dan pemandangan yang sesuai dengan ayat maka lukisan tersebut akan memiliki nilai seni yang tinggi.

Selanjutnya dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa Ustadz Bachri merasa tertantang oleh Hardi yang akan melakukan pameran 3 bulan lagi, kemudian Ustadz Bachri mencoba untuk melukis kaligrafi diatas kanvas, Namun lukisan yang ia buat tidak pernah berhasil, hingga seorang kurir kiriman Hardi datang untuk mengambil lukisan tersebut. Tanpa diduga lukisan yang dibuat Ustadz Bachri ternyata diminati banyak orang dalam pameran tersebut. Lukisannya menjadi terkenal dan ditawar seharga 10.000 Dolar AS. Lukisan tersebut sebenarnya hanya dilukiskan menggunakan 2 warna dan hanya melukiskan satu huruf yaitu alif. Namun judul, makna dan falsafah yang dijelaskan oleh Hardi kepada para pengunjung dan wartawan membuat lukisan Ustadz Bahri menjadi terlihat amat menarik.

Berdasarkan ringkasan cerita diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menggambar sebuah lukisan kaligrafi tidak hanya memerlukan pengetahuan tentang khat Arab, namun juga perlu memiliki wawasan tentang seni dan teknik melukis. Penilaian seseorang terhadap lukisan kaligrafi tidak hanya melihat kualitas dari lukisan tersebut, namun jika dapat memberikan judul, makna, dan falsafah yang menarik terhadap lukisan tersebut maka secara langsung akan memberikan kesan yang baik dan membuatnya menjadi menarik.