Pengalaman diterima kuliah di Universitas Indonesia dari anak FIB UI

Semester 8 sudah terlewati. Jika saya mengikuti kuliah dengan wajar pada semester 8 ini harusnya sudah mencapai tahap akhir. Sejauh ini sudah ada 3 orang yang lulus di semester ini pada program studi yang saya ambil yaitu Arkeologi di Kampus FIB UI. Pelan-pelan saya kembali menarik mundur ingatan ke masa awal perkuliahan. Satu waktu di tahun 2015 saya pernah membuat tulisan mengenai kuliah jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia. Selain itu dulu ketika masa orientasi saya diminta untuk membuat satu narasi. Pengalaman diterima di UI diminta untuk dituangkan ke dalam bentuk narasi. “Memasuki Dunia Arkeologi” adalah judul dari narasi yang saya buat untuk memenuhi tugas orientasi. Samar-samar ingatan saya, mungkin ini diminta ketika sedang mengikuti Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia atau yang biasa dikenal dengan singkatan OKK UI. Berdasarkan keterangan modified date tulisan ini terakhir diedit pada tanggal 2 agustus 2015.

Memasuki Dunia Arkeologi

Diterima di Universitas Indonesia merupakan suatu anugrah yang luar biasa dan prestasi yang membanggakan bagi saya. Teringat pada saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Indonesia yaitu saat diadakannya UI Opendays 2015, ini adalah kali pertama saya mengunjungi PTN, saya kagum melihat betapa luasnya Universitas Indonesia dengan berbagai macam kehidupan di dalamnya. Sebelum pulang teman-teman saya mengabadikan momen didepan perpustakaan pusat UI, namun saya menolak untuk ikut bernarsis ria, karena menurut saya ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat. Saya masih ingat salah satu teman saya mengatakan bahwa saya akan menyesal tidak berfoto di UI. Akan tetapi pendapat tersebut langsung saya sanggah, kurang lebih saya mengatakan bahwa nanti juga saya akan kembali dan sering ke UI. Selanjutnya teman saya meragukan kepercayaan diri saya, saya hanya membalasnya dengan sedikit tertawa. Dalam benak saya, kelak saya pasti akan jadi bagian dari mereka, Mahasiswa UI.

Waktu pun terus berjalan, hingga pada hari pengumuman SBMPTN pun tiba. Saya sangat bangga dengan hasilnya, yang menyatakan bahwa saya diterima di Universitas Indonesia program studi Arkeologi Indonesia. Arkeologi merupakan pilihan kedua saya saat SBMPTN, saya memilihnya karena saya memiliki sedikit ketertarikan dengan sejarah Indonesia. Indonesia memiliki banyak sejarah kehidupan yang belum terungkap. Hal tersebut merupakan suatu tantangan yang ingin saya selesaikan. 

Walaupun saya masih sangat awam dengan Arkeologi, saya yakin dapat mempelajarinya dengan baik dan benar. Mengungkap sejarah yang belum terungkap, Melestarikan kebudayaan, Meneliti benda –benda purbakala, itulah sebagian pikiran saya tentang Arkeologi saat ini. Target saya adalah lulus sarjana tepat waktu dengan IPK diatas 3.20 kemudian melanjutkan ke program pascasarjana Arkeologi dengan peminatan Arkeologi Prasejarah.

Meskipun kuliah jurusan Arkeologi, saya memiliki minat yang besar terhadap kewirausahaan, pemasaran, dan IT khususnya pengembangan Website. Saya juga memiliki  pengalaman dibidang kewirausahaan , dan hingga saat esai ini ditulis saya masih bekerja sebagai website developer di sebuah toko ritel online yaitu toko49.com. Namun saya sangat minim pengalaman dalam organisasi. Oleh karena itu saya ingin bergabung dan mengikuti organisasi yang ada di Universitas Indonesia, agar dapat meningkatkan kemampuan, menambahkan relasi dan menjalin silaturahmi dengan mahasiswa UI lainnya.

Saya berharap dapat berkolaborasi membangun suatu usaha dengan sahabat mahasiswa UI lainnya, serta mengikuti organisasi yang berhubungan dengan kewirausahaan dan IT  dan ikut berkontribusi didalamnya. Membuat suatu aplikasi yang dapat memberikan pengetahuan lebih lanjut tentang Arkeologi Indonesia merupakan salah satu keinginan saya.

Mencari, Menemukan, Meneliti, dan  Mengungkap sejarah baru, serta ikut melestarikan kebudayaan adalah cita – cita saya selama dan setelah menempuh pendidikan jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia.

Dunia Arkeologi memang sangat baru bagi saya, dan masih banyak masyarakat yang belum sadar betapa luasnya dunia Arkeologi sehingga dipandang sebelah mata. Keraguan mereka tidaklah berarti bagi diri saya, kelak saya akan menunjukkan kepada mereka bahwa saya mampu berprestasi di dunia Arkeologi. 

1440442671036

___________

Hingga hari ini saya cukup menikmati kuliah sebagai mahasiswa arkeologi yang begitu asyik. Beberapa hari ke depan tulisan ini sudah empat tahun. Sedikit mengulas tulisan saya diatas. Gagasan dalam tulisan belum sepenuhnya tercapai dan beberapa ada yang berubah. Walaupun ada beberapa gagasan yang pelaksanaannya berubah namun secara prinsip masih sesuai. Contoh gagasan yang berubah adalah mengenai keinginan saya untuk aktif di organisasi kewirausahaan dan IT. Kenyataan ya ng terjadi hingga tulisan ini dibuat saya aktif dalam organisasi intra kampus yang banyak bergerak di bidang kegiatan alam bebas, pelestarian lingkungan dan pengabdian masyarakat.

Satu gagasan lain yang cukup relatif mengenai waktu kelulusan. Pada tulisan saya menyampaikan bahwa saya mempunyai target untuk lulus tepat waktu. Tepat waktu pada tulisan dibandingkan dengan kondisi saat ini menimbulkan sedikit pertanyaan untuk saya. Apa yang saya pikirkan ketika menulis “tepat waktu” dulu ya?

 

Kebhinekaan Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia: Perspektif Arkeologi

Indonesia merupakan Negara yang memiliki berbagai macam suku, bangsa  agama, dan ras yang tersebar di seluruh wilayahnya. Apa yang kita sebut disini sebagai “bangsa” adalah bangsa dengan kebudayaannya masing-masing, yang satu sama lain seringkali dihubungkan oleh kepentingan-kepentingan bersama dalam hal ekonomi maupun politik (Sedyawati, 1993:24).

Keragaman yang teradapat di Indonesia sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Hal ini terlihat dari temuan tulang manusia pada Situs Binangun dan Situs Leran yang terdapat di kawasan Pantai Utara, Kabupaten rembang, Jawa Tengah. Hasil analisis yang dilakukan dari 23 sampel individu rangka manusia terdapat 4 sampel yang termasuk kelompok Mongoloid, 3 sampel kelompk Austro-melanesian, dan 2 sampel dikelompokkan sebagai “Gracile Group”. Dua sampel terakhir berdasarkan ciri-ciri fisik yang ramping kemungkinan adanya kelompok atau ras lain yang tinggal di kawasan Pantai Utara Jawa ini bersama ras Mongoloid dan Australo-Melanesian. Melalui analisis itu dapat diketahui bahwa sejak tahun 500 sebelum masehi di kawasan Pantai Utara Jawa khusunya antara Kecamatan Lasem dan Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang telah diokupasi berbagai ras.

Meskipun masyarakat Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku, bangsa agama dan ras, pada kehidupan sehari-harinya mereka dapat akur, karena kebhinekaan telah muncul dan disadari sejak masa prasejarah.  “Semboyan Bhineka Tunggal Ika” Menunjukkan ciri keragaman kehidupan bangsa Indonesia, yang sesungguhnyaa berarti: Justru karena berbeda-beda maka ia satu adanya (Mattulada, 1985:47).

Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi dasar kebhinekaan di Indonesia berasal dari masa Majapahit. Diambil dari kitab Sutasoma pupuh 139 bait 5 yang berbunyi “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Kalimat yang ditulis oleh Mpu Tantular pada kitab Sutasoma itu merupakan cara menyatakan keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan kala itu. Kalimat itu ditulis untuk menumbuhkan rasa semangat dan persatuan pada masa itu. Menurut saya, kebhinekaan dapat dikatakan telah diakui dengan adanya bukti tertulis ini. Meskipun masyarakatnya majemuk namun  mereka semua adalah satu. Bangsa Indonesia.

Selain itu terdapat keragaman agama yang dapat ditelusuri adalah dengan adanya keragaman agama pada Dinasti Sailendra. Hal ini ddapat terlihat pada penggambaran relief Karmawibangga yang terdapat gambaran pendeta hindu dan bhiksu Buddha. Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu pun sudah muncul keragaman namun tetap pada satu kesatuan. Melalui keragaman agama itu dapat dilihat bahwa penguasa masa itu mempunyai sikap toleransi dalam kehidupan beragama.

Kemajemukan masyarakat sebagaimana yang ada di Indonesia adalah suatu keniscayaan yang tidak mungkin disangkal. Tidak ada cara lain bagi bangsa ini kecuali dengan berkomitmen kuat merawat keragaman menjadi sebuah kemungkin dan tidak mentolelir segala bentuk tindakan yang dapat menghancurkan tatanan masyarakat majemuk (Amirsyah 2012:51). Hingga pada masa munculnya Bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara. Kemajemukan masyarakat indonesia ini terus ditelusuri dan kemudian ditemukan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini kemudian dikristalisasi sebagai salah satu lambing Negara dengan dituliskan pada pita yang terdapat pada kaki lambang Garuda Pancasila.

Kesadaran untuk mengukuhkan “Bhineka Tunggal Ika” sebelum dikristalisasi sebagai lambang Negara telah dicetuskan dalam peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928. Pada hakikatnya sejak awal para founding fathers bangsa Indonesia telah menyadari akan keragaman bahasa, budaya, agama, suku dan etnis kita. Singkatnya bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka bangsa Indonesia menganut semangat Bhinneka Tunggal Ika, hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan persatuan yang menjadi obsesi rakyat kebanyakan (Mahfud 2009:10)

Persatuan dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa (Kansil dan C. Kansil 2006:25). Dapat disimpulkan bahwa semboyan ini merupukan kunci permersatu Bangsa Indonesia di masa kini. Kesadaran tentang keragaman dan persatuan yang sudah muncul sejak dulu ini menjadi kunci untuk mewujudkan masayarakat majemuk yang saling toleransi dalam perbedaan-perbedaan yang ada.

Keberagaman budaya, etnis, bahasa, dan tradisi bangsa Indonesia telah muncul sejak masa prasejarah. Dengan mengangkat nilai-nilai kebhinekaan terhadap keberagaman yang ada merupakan satu cara untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Melalui hal ini masyarakat majemuk dapat mengetahui bahwa sejak dulu perbedaan-perbedaan yang ada tidak menimbulkan seteru. Masyarakat majemuk Indonesia hidup berdampingan dengan harmonis.

 

Daftar Pustaka

Santiko, H. 2013. “TOLERANSI BERAGAMA DAN KARAKTER BANGSA: PERSPEKTIF ARKEOLOGI” dalam SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 1. Depok.

Kasnowihardjo, G. 2016. “KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN ARKEOLOGI DALAM PROGRAM ‘KEBHINEKAAN SEBAGAI PEMERSATU BANGSA’ ‘STUDI KASUS PADA SITUS KUBUR PRASEJARAH DI PANTAI UATARA JAWA TENGAH’”. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Lestari, G. 2015. “BHINNEKHA TUNGGAL IKA: KHASANAH MULTIKULTURAL INDONESIA DI TENGAH KEHIDUPAN SARA” dalam Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th 28, Nomor 1. Yogyakarta.

Asyiknya menjadi mahasiswa arkeologi!

Masih teringat tentang bagaimana perasaan ini ketika baru menjadi mahasiswa arkeologi. Kala itu saya senang sekali, lantaran dapat kuliah di jurusan ini. Namun, tidak lama saya merasakan kesenangan itu. Saya mulai bosan. Selain itu juga mulai memikirkan tentang apa esensi dari yang saya pelajari ini. Tidak ada masa depan yang cerah dalam penglihatan. Saya mulai memikirkan apa yang harus saya lakukan.

Semester pertama usai. Pada semester kedua saya mencoba memulai sebuah bisnis. Bisnis import barang dari china sesuai dengan pengalaman yang saya punya. Kehidupan kala ini hanyalah pulang-pergi depok-bekasi. Habis kuliah lalu kembali mengurus bisnis ini.


Kuliah berjalan biasa saja. Tanpa terasa saya sudah menghabiskan waktu. Hingga semester 3 datang. Bisnis saya pada semester ini mulai kurang terurus. Sebab saya sibuk mencari kesibukan baru. Pada semester ini saya kembali mendalami ilmu yang saya pelajari. Tetap saja hal itu hanya sementara. Setelahnya saya hanya datang dan menghabiskan hari di bangku kuliah. Tanpa benar-benar mengkaji apa yang sedang saya pelajari.


Semester empat tiba. Waktu saya banyak dihabiskan untuk proses pendidikan di sebuah organisasi. Alhasil, kuliah saya kurang memuaskan semester ini. Banyak bahan atau tugas kuliah yang tidak terdokumentasi. Sudah pasti IP saya turun walaupun sedikit.


Ketika liburan antara semester 4 dan 5. Saya dan teman-teman melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Jambi. Disinilah gairah sebagai mahasiswa arkeologi mulai tergugah. Kami melakukan ekskavasi di Kawasan Cagar Budaya Muarojambi. Ekskavasi merupakan metode arkeologi yang dilakukan untuk melakukan pengumpulan data. Kegiatan selama KKL adalah mengumpulkan data di pagi hari hingga petang. Malam hari dilakukan pembuatan laporan, presentasi, ataupun kuliah.


display alat ekskavasi

Display Alat Ekskavasi


Ekskavasi menggunakan berbagai macam peralatan. Adapun alat mengupas terdiri dari Sudip, Cetok dan Petel. Pemilihan alat yang digunakan tergantung dari karakteristik tanah dan sebaran temuan. Asyiknya, saya mendapatkan tempat ekskavasi yang dipenuhi bebatuan dan akar. Sehingga seluruh alat terpakai saat pengupasan tanah.


Mula-mula saya menggunakan sudip untuk mencongkel fragmen bata pada permukaan tanah. Sudip adalah alat gali yang dibuat dari bilah bambu dengan panjang sekitar 15-20 cm dan lebar sekitar 5-10cm. Salah satu ujung dari bilah bambu kemudian dibuat runcing dengan ukuran 1-5cm. Penggunaan alat ini sangat mudah bahkan untuk orang awam sekalipun. Setelah habis fragmen bata dan tersisa permukaan tanah saja, dilakukan penggantian alat. Karena tujuan belum tercapai saya masih harus terus mengupas tanah. Kali ini menggunakan petel. Petel secara bentuk dapat dikatakan mirip dengan cangkul/pacul. Namun dengan ukuran yang lebih kecil. Ujung besi petel dibuat tajam. Tujuannya agar lebih mudah dalam mengupas tanah. Ketika dirasa tanah sudah datar saat dikupas dengan petel, selanjutnya adalah meratakan permukaan tanah. Inilah saatnya cetok digunakan. Cetok adalah alat yang umumnya digunakan tukang bangunan ketika meratakan semen. Namun cetok arkeologi memiliki bentuk yang berbeda. Besi cetok dibuat membentuk segi empat asimetris.


Perekaman Data Arkeologi

Perekaman Data Arkeologi


Selain alat, yang tidak kalah menarik adalah teknik perekaman data. Untuk merekam data dilakukan pengupasan tanah dengan pembuatan lot. Pembuatan lot merupakan cara pengupasan tanah yang dilakukan ketika mempunyai suatu tujuan dan berhenti setelah tujuan itu tercapai. Data direkam dengan menggambar, memotret foto, mengukur, dan mencatat gejala-gejala yang ada saat sedang dilakukan pengupasan.


Tidak hanya bekerja di lapangan. Pekerjaan tetap asyik di basecamp. Disini saya menyusun data dalam bentuk laporan, gambar, ataupun foto. Setelah melakukan pekerjaan dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi mengenai hasil pengumpulan data di lapangan. Sehingga dapat diketahui kendala yang terjadi dan diberikan solusi. Melalui KKL, keseruan sebagai mahasiswa arkeologi mulai terasa.


Semester 5 kini saya jalani. Kuliah, Organisasi, Bisnis, dan Bekerja saya coba lakukan di semester ini. Pada semester ini saya semakin menyadari asyiknya kuliah di arkeologi. Apalagi ketika sedang mengkaji hal baru yang belum diketahui. Memang saya belum menjadi orang yang cerdas di bidang ini. Tapi saya menyadari banyak sekali yang perlu dikaji.


Belakangan ini saya sedikit mempelajari arkeologi maritim dan laporan survei arkeologi. Arkeologi maritim merupakan kajian yang cukup jarang diminati. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan penggunaan teknologi untuk mendeteksi kapal karam. Satu kali saya juga mengunjungi museum di gedung mina bahari. Museum itu berisi koleksi kemaritiman paling banyak berasal dari cirebon. Hal lain yang beberapa kali saya baca adalah laporan survei arkeologi yang dilakukan di beberapa tempat. Laporan survei di gunung penanggungan pada tahun 1976 merupakan favorit saya. Pada laporan ini terdapat deskripsi verbal dan piktorial hasil survei. Sepengetahuan saya pada gunung ini terdapat beberapa candi yang ditemukan oleh KAMA UI. Ingin sekali mengunjungi tempat ini. Tidak lain hanya untuk merasakan asyiknya menjadi mahasiswa arkeologi!


 

DSC06121

Keadaan Awal Kotak

akhir

Setelah dilakukan Ekskavasi, terdapat susunan bata yang diduga merupakan struktur pagar.

Ringkasan Sejarah Kerajaan Kutai dari Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2

Bukti-bukti tertuaa akan adanya suatu kehidupan masyarakat yang bercorak keindiaan yaitu terdapat di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Dengan ditemukannya arca bercorak buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Di kota bangun kalimantan timur ditemukan arca buddha yang memperlihatkan langgam seni arca Gandhara. Menurut Foucher dan Bosch, ciri seni Gandhara tampak pada sikap tangan dan hiasan jala pada telapak tangan arca Buddha Kota Bangun. Selain arca Buddha ditemukan juga arca hindu diantaranya mukhalingga dan ganesa.

Pada tahun 1879 di daerah kalimantan timur tepatnya di bukit berubus, muara kaman ditemukan beberapa buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu. Tiang batu itu disebut yupa, nama tersebut diambil dari prasasti itu sendiri. Hingga saat ini sudah 7 yupa yang ditemukan. Semuanya dikeluarkan atas titah seorang penguasa yang bernama mulawarman.

Salah satu isi dari yupa adalah mengenai silsilah mulawarman. Disebutkan bahwa pendiri keluarga kerajaan (wangsakarta) adalah Aswawarman bukan Kudungga. Prasasti lain berisi tentang perkara yang telah disedekahkan oleh sang raja mulawarman sebagai pengingat kebaikan budi sang raja.

Selain archa Buddha dan Yupa, ditemukan pula peninggalan yang menunjang bukti keberadaan kerajaan Mulawarman dan bahkan masa sebelumnya. Peninggalan tersebut terdapat di gua sepanjang Sungai Jelai, Tepian Langsat, Kabupaten Kutai Timur yang berupa lukisan cap tangan pada dinding gua. Di bukit berubus selain ditemukan yupa banyak arca-arca perunggu oleh para penggali liar pada tahun 1990an. Ekskavasi yang diadakan di situs tersebut menemukan sisa bangunan dari batu kapur (mungkin candi), tetapi tinggal pondasi bangunan saja. Dan beberapa fragmen berpelipit yang jelas merupakan komponen bangunan, diperkirakan tempat tersebut menjadi tempat kegiatan keagamaan yang mungin sezaman dengan Mulawarman.

Wilayah lain yang memiliki peninggalan yaitu Desa Long Bangun, terdapa sebuah nandi dalam keadaan utuh. Kabupaten Kutai Timur yang ditemukan sejumlah arca yang mungkin lebih muda dari zaman Mulawarman, namun belum diketahui dengan jelas apakah memiliki hubungan dengan kerajaan mulawarman.

Keluarga raja pada waktu itu terbatas pada keluarga kerajaan yang telah menyerap budaya india. Menurut prasasti penyerapan budaya terlihat pada waktu Aswawarman, anak Kudungga, menjadi raja, yaitu dipergunakannya nama yang berbau india sebagai nama pengenal. Oleh karena itu yang dianggap sebagai pendiri keluarga raja adalah Aswawarman dan bukan Kudungga.

Di dalam agama Hindu seseorang dapat diterima kembali kastanya melalui upacara penyucian diri yang disebut vratyastoma. Upacara vratyastoma dijadikan masyarakat indonesia untuk meresmikan sebagai anggota masyarakat dalam suatu kasta di agama Hindu.

Prasasti yang ditemukan tidak sedikitpun berbicara tentang masyarakatnya. Ditulisnya prasasti-prasasti mulawarman dengan mepergunakan bahasa Sanskerta dan Pallawa, merupakan petunjuk bagi kita untuk menduga keadaan masyarakatnya. Beberapa istilah dalam prasasti belum dapat dimengerti dengan jelas, misalnya jivadana.

Kita lebih banyak tahu kehidupan keagamaan pada zaman Mulawarman. Semua prasasti yang ditemukan membicarakan tentang upacara selamatan di dalam memperingati salah satu kebaikan atau pekerjaan yang dilakukan oleh Mulawarman. Mulawarman adalah penganut agama hindu, dapat dilihat dari penyebutan nama Angsuman dan upacara sedekah yang bertempat di Waprakeswara.

Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa agama yang dipeluk sang raja Mulawarman ialah agama siwa. Dari bunyi semua prasastinya dapat diduga Mulawarman adalah seorang raja yang sangat baik hubungannya dengan kaum Brahmana.

Melihat Makna Simbolisme pada Candi Sukuh Yang Populer Dengan Unsur Seksualnya

Candi Sukuh merupakan peninggalan dengan ciri khas agama hindu dari abad ke 15 yang terletak di lereng Gunung Lawu, Dusun Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten  Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Pada situs ini banyak terdapaat benda arkeologi yang merupakan simbolisme dari agama hindu. Dalam agama, simbol dipandang sebagai ungkapan indrawi atas realitas yang transenden, sementara dalam sistem logika atau ilmu pengetahuan, simbol atau lambang memiliki arti sebagai tanda yang abstrak (O’Collins dan Farrugia:1996). Simbol biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berisi pesan-pesan tertentu yang sangat luas dan dapat dimaknai sesuai kepercayaan masing-masing.

Benda arkeologi yang terdapat di situs Candi Sukuh antara lain adalah bangunan candi, relief, arca dan prasasti. Bangunan Candi Sukuh memiliki bentuk yang berbeda dari bentuk-bentuk candi agama hindu pada umumnya. Susunan bangunan Candi Sukuh merupakan punden berundak-undak berbentuk bujur sangkar yang menghadap ke barat dan makin meninggi ke arah timur. Bentuk tersebut sedikit mirip dengan peninggalan suku Maya yang terdapat di Meksiko. Unsur seksualitas cukup dominan pada benda-benda arkeologi yang terdapat pada situs ini. Namun unsur-unsur seksualitas yang terdapat pada situs ini erat kaitannya dengan pendidikan, perlambangan dewa dan kepercayaan dalam agama hindu.

Melihat berbagai fenomena dan keunikan yang terdapat pada Candi Sukuh membuat saya tertarik untuk membahas simbolisme pada benda-benda arkeologi di situs Candi Sukuh. Untuk mengetahui deskripsi yang cukup lengkap dari Candi Sukuh, kamu bisa mengunjungi website perpusnas

Candi Sukuh banyak menarik minat masyarakat awam untuk dijadikan sebagai tempat pariwisata, karena terletak di tempat yang sejuk dan memiliki bentuk candi yang berbeda dari bentuk-bentuk candi pada umumnya, selain itu juga terdapat beberapa benda arkeologi yang mengandung unsur seksualitas. Hal tersebut kemudian membuat masyarakat awam beranggapan bahwa candi sukuh merupakan candi cabul, karena berbeda dengan candi lainnya, terdapat arca-arca yang menggambarkan lingga dengan bentuk yang vulgar bahkan dikutip dari blog lisa gopar, terdapat ritual untuk mengetahui keperawanan untuk para pengunjung, yaitu dengan cara melewati celah yang terdapat pada sebuah arca. Selain itu bentuk bangunan candi sukuh yang menyerupai kuil bangsa maya di meksiko membuat ciri khas tersendiri, berbeda dengan candi hindu lainnya yang ada di pulau jawa.

Benda-benda arkeologi di Candi Sukuh mengandung simbol-simbol dari agama hindu yang sampai saat ini masih digunakan untuk melakukan ritual keagamaan oleh masyarakat hindu yang tinggal di sekitar candi tersebut. Simbol-simbol tersebut banyak yang merupakan unsur-unsur seksualitas seperti phallus dan vagina yang terdapat di lantai gapura masuk situs ini. Menurut anggapan yang terdapat dalam kitab Kawi, bagian badan yang vital, seperti kepala dan alat kelamin dianggap memiliki kekuatan ghaib untuk mengusir roh jahat  yang biasa dengan istilah suwuk. Sehingga anggapan masyarakat bahwa candi sukuh adalah candi cabul sepenuhnya salah. Karena sebenarnya unsur seksualitas yang terkesan vulgar tersebut adalah simbolisme dari kesucian dan dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengusir roh jahat.

Menurut Joko Adi pada tulisannya, relief kelamin pada lantai pintu gerbang utama dan bentuk candi Sukuh itu justru mengandung pesan nilai moral dan etika serta etiket yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat yang memahaminya terkait dengan hubungan suami isteri. Perlu diingat, berdasar angka tahun 1437 M itu tidak semua orang bisa membaca dan menulis, oleh karena itu pujangga, undagi pada masanya begitu panjang dan jauh daya prediksinya untuk dapat menuangkan suatu tatanan yang bisa dimaknakan oleh masyarakat terkait dengan etika hubungan suami isteri secara fisik berupa simbol.

Adapun bentuk bangunan candi tidak ada keterkaitannya dengan bangsa maya. Dikutip dari situs daring national geographic, arsitektur candi terpengaruh oleh kebudayaan megalitik, pada masa sebelum Hindu-Buddha. Karena pada saat itu terdapat anggapan bahwa pengaruh hindu sudah semakin rendah karena masuknya islam. Namun menurut Joko Adi, Candi Sukuh dibangun dari tradisi masyarakat yang agamis. Selain itu menurut Joko Adi, Bentuk bangunan candi Sukuh bila diperhatikan dari jauh sudah merupakan bentuk reproduksi luar wanita (bisa diperhatikan dalam gambar). Itu artinya menunjukkan begitu luhur seorang wanita, oleh karena itu bagaimanapun juga wanita harus dijunjung tinggi kedudukannya. Sebagai kaum yang dianggap lemah harus diayomi, tidak disia -siakan karena juga ikut melestarikan keseimbangan generatif yang dalam hal ini disebut dengan budaya falistik.

Selain hal yang berkaitan dengan agama, candi sukuh juga memberikan gambaran teknologi dan nilai-nilai yang terdapat pada kebudyaan di zaman tersebut. Gambaran teknologi terlihat pada salah satu relief yang menggambarkan proses kegiatan di tempat pandai besi. Sedangkan nilai-nilai kebudayaan terdapat pada relief sudamala dan garudeya yang menggambarkan nilai karakter yang terdiri dari religius, jujur, kerja keras, toleransi, tanggung jawab, bersahabat/komunikatif, demokratis, peduli sosial, kreatif, disiplin, dan mandiri.

Simbolisme pada situs Candi Sukuh dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, baik dari tinjauan agama, teknologi maupun kebudayaan. Makna yang terkandung pada situs Candi Sukuh dapat dipahami dengan arti yang berbeda, misalnya seperti anggapan bahwa bangunan dibuat saat melemahnya pengaruh hindu sedangkan banyak simbol-simbol yang melambangkan kesucian dari agama hindu.

 

DISCLAIMER

Tulisan ini dipengaruhi dan bahkan sebagian merupakan kutipan dari artikel yang berjudul, CERMINAN ETIKA DALAM HUBUNGAN ANTAR-MANUSIA; Analisis pada Beberapa Ornamen Candi Sukuh yang ditulis oleh Djoko Adi Prasetyo, Dosen Jurusan Antropologi FISIP Unair, Surabaya dan referensi tambahan dari berbagai sumber lainnya.

Semua foto adalah milik Paul Riley diambil dari http://www.pbase.com/rileyuni/sukuh

Referensi:

Prassetyo, Joko Adi.”Cerminan Etika dalam Hubungan Antar-Manusia Analisis pada beberapa Ornamen Candi Sukuh”. Surabaya: Universitas Airlangga.

O’Connor, Stanley J. “Metallurgy and Immortality at Candi Sukuh Central Java”.

Hastutiningsih, Tri. 2008. “SIMBOL-SIMBOL AGAMA HINDU DI CANDI SUKUH (Studi Simbol Agama Hindu di Dusun Sukh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah)”. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Hartini., Mufida, Rina Rahma. “CERITA-CERITA DI BALIK CANDI SUKUH SEBAGAI PEMERKAYA CERITA DRAMA TRADISIONAL”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Wardani, Yuliana Kuncoro., Sariyatun., Pelu, Musa., “MAKNA SIMBOLIK RELIEF SUDAMALA DAN GARUDEYA DI CANDI SUKUH RELEVANSINYA DENGAN PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN IPS SEJARAH”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_sukuh

http://lisagopar.com/candi-sukuh-yang-kontroversial

http://ancientexplorers.com/blog/mayan-temple-in-java/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/01/rekam-jejak-siklus-manusia-di-candi-sukuh

Berkunjung ke Museum Pengkhianatan PKI / Monumen Pancasila Sakti

IMG_20151220_134444

Pintu masuk gedung Museum Pengkhianatan PKI

Museum Pengkhianatan PKI terletak di lokasi yang cukup strategis, hanya beberapa ratus meter dari Asrama Haji Pondok Gede. Berada di dalam suatu kompleks yang luas di Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Saya berkunjung ke Museum ini dengan menggunakan Motor dari arah bekasi. Museum ini sangat mudah ditemukan, karena pintu gerbang kompleks utamanya terletak di pinggir jalan raya pondok gede, pada gerbang utama yang berbentuk gapura terdapat tulisan Monumen Pancasila Sakti, karena Museum Pengkhianatan PKI masih satu kompleks dengan Monumen Pancasila Sakti. Sekitar seratus meter dari gerbang utama terdapat pos penjaga, saya membayar uang untuk masuk ke kompleks ini sejumlah Rp. 5000. Setelah membayar, saya langsung lurus menyusuri jalan, terdapat beberapa signage yang menunjukkan wilayah parkir khusus bus, mobil dan motor. Jarak dari pos penjaga hingga parkiran motor cukup jauh, sekitar 600 Meter. Lahan parkir untuk motor terletak langsung di lingkungan gedung Museum Pengkhianatan PKI. Parkir motor disini saya mengambil karcis dan saat pulang tidak dilakukan pengecekan STNK serta diharuskan membayar Rp. 2000. Setelah memarkirkan motor, kemudian saya bergegas mencari toilet. Toilet terdapat diluar gedung Museum, toilet ini mudah ditemukan karena terdapat beberapa signage yang menunjukan lokasi toilet. Namun saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam toilet karena hanya mengantarkan teman, dikenakan biaya seikhlasnya setelah menggunakan toilet ini. Dekat dengan Toilet terdapat sebuah kantin yang menjual berbagai pernak-pernik souvenir yang bercorak TNI, kantin ini juga menjual makanan dan minuman.

IMG_20151220_134942_compressed

Pada gedung utama Museum di depan pintunya terdapat miniatur kompleks Museum dan terdapat 2 buah tempat sampah di sisi kiri dan kanan pintu masuk Museum serta signage larangan merokok. Terdapat Plakat peresmian di sisi dinding dekat pintu masuk, yang berisikan informasi bahwa Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) diresmikan oleh Presiden Soeharto di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1992. Memasuki ruangan pertama disajikan gambar korban pemberontakan dan penggalian korban, di sisi kanan pada pintu masuk terdapat kantin yang menjual makanan dan minuman ringan dan souvenir seperti topi dan kaos bercorak TNI dan Monumen Pancasila Sakti. Didalam ruangan ini juga terdapat signage larangan merokok dan terdapat AC diatas pintu masuk serta dilengkapi CCTV diatas gambar foto. Di dalam ruangan pertama yang saya masuki ini terdapat pasangan suami istri yang sedang mengambil foto.

IMG_20151220_142618_compressed

Anak kecil yang sedang mengabadikan salah satu diorama yang terdapat di dalam Museum Pengkhianatan PKI

Ruangan-ruangan selanjutnya menyajikan diorama yang diurutkan dari awal pemberontakan PKI hingga penumpasannya. Diorama ini terdapat didalam sebuah ruang transparan yang dilapisi kaca, namun sedikitnya pencahayaan membuat diorama didalamnya agak susah dilihat karena terpantul bayangan dari luar. Setiap diorama memiliki informasi dengan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Disertai juga foto yang berkaitan dengan diorama tersebut. Seluruh diorama seolah-olah hanya menggambarkan sisi buruk dari PKI dengan segala pemberontakan yang mereka lakukan. Mungkin karena saya mengunjungi Museum ini pada hari minggu dan memang sudah masuk musim libur sekolahan, saat saya mengunjungi museum ini terdapat banyak pengunjung, kebanyakan dari mereka adalah keluarga besar dan pasangan muda, banyak dari mereka yang mengambil foto dari diorama dan bahkan menjadikan diorama sebagai objek foto seseorang dari mereka. Setiap beberapa meter di dinding Museum terdapat fire extinguisher dan hydrant sebagai bentuk antisipasi jika terjadi kebakaran. Pada satu sisi di lorong Museum terdapat kolam hias yang tidak menyala. Terdapat CCTV di langit-langit lorong museum tiap sisi tertentu. Lorong dan diorama gedung pertama Museum ini cukup panjang dan terletak di dua lantai.

IMG_20151220_143009_compressed

Kantin di dalam gedung Museum Pengkhianatan PKI

Satu gedung tampaknya tidak cukup untuk menggambarkan diorama PKI, di lantai dua terdapat lorong penghubung tanpa dinding ke gedung kedua Museum. Di lorong ini kita bisa melihat pemandangan yang cukup bagus dengan melihat kondisi luar Museum dari atas. Kantin juga tersedia di dalam gedung Museum yang kedua dilengkapi dengan kursi panjang yang berguna sebagai tempat istirahat bagi para pengunjung. Terdapat toilet yang diperuntukkan bagi pengunjung Namun toilet di dalam Museum ini memiliki aroma yang tidak sedap, ruangan yang kurang bersih dan WC yang tidak berfungsi, tetapi air masih menyala. Di dekat toilet ini disediakan kotak uang namun tidak ada yang menjaganya. Di beberapa sisi dinding tedapat kutipan-kutipan kalimat seperti pidato ataupun ucapan terkait pemberontakan PKI. Pada salah satu dinding terdapat foto sepuluh pahlawan revolusi keganasan G30S PKI tahun 1965. Sebelum pintu keluar gedung ini, saya melewati Ruang Tunggu VIP namun didalamnya hanya ruangan kosong. Begitu keluar dari gedung ini, terdapat pintu masuk ke gedung selanjutnya yang terdapat pakaian para korban G30S PKI.

IMG_20151220_145230_compressedIMG_20151220_142641_compressed

Saat memasuki gedung yang ketiga ini, saya langsung memasuki ruangan di sebelah kanan yaitu ruang benda bersejarah / relik. Ternyata di dalam ruangan ini tidak hanya terdapat pakaian dan bekas darah seperti yang dituliskan pada signage, namun juga terdapat koleksi barang lainnya milik para korban G30S PKI seperti sepeda, tongkat, stik golf dan barang-barang lainnya. Di tengah-tengah ruangan ini terdapat site plan dari Monumen Pancasila Sakti. Setelah puas dengan ruangan ini saya bergegas kembali ke lorong. Di depan ruangan ini terdapat ruangan teater pemutaran film pemberontakan G30S PKI, namun ruangan ini ditutup, mungkin hanya buka pada waktu tertentu. Di salah satu sisi sebelah kanan dinding menuju ruangan berikutnya terdapat ucapan pembangkit semangat. Ruangan selanjutnya yang saya masuki yaitu ruangan di sebelah kanan yang merupaka ruang pameran foto dokumenter, berbeda dengan ruangan sebelumnya yang cukup ramai, saat saya memasuki ruangan ini tidak ada pengunjung yang memasukinya. Di depan ruangan ini atau di sebelah kiri dari lorong terdapat ruang dokumenter dan perpustakaan. Setelah ruangan ini saya menyusuri lorong dan tidak ada ruangan lagi hingga pintu keluar gedung. Setelah keluar dari Gedung museum terakhir terdapat panser yang merupakan kendaraan untuk membawa jenazah pahlawan revolusi dari markas besar angkatan darat ke makam pahlawan kalibata pada tanggal 5 oktober 2015.

Terdapat banyak informasi tentang sejarah yang akan didapatkan setelah mengunjungi Museum ini terlebih tentang Pemberontakan PKI. Setelah mengunjungi museum ini, saya menuju Monumen Pancasila Sakti yang terletak didepan Museum. Di lingkungan monumen ini terdapat Sumur tempat pembuangan para Pahlawan Revolusi yang dibunuh oleh PKI, Rumah penyiksaan, Dapur Umum Pemberontak PKI dan Monumen Pancasila Sakti.

IMG_20151220_145247_compressed

Kalimat pembangkit semangat yang terdapat di beberapa sudut museum

Kunjungan ke Museum DPR RI di Jakarta

Pada tanggal 22 September 2015, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi Museum DPR RI dalam rangka memenuhi tugas pengantar museologi. Berangkat kesini tadinya saya ingin menggunakan motor, namun saya urungkan karena belum pernah memasuki Kompleks DPR dan takut tidak boleh parkir motor, akhirnya saya jalan ke sini menggunakan Kereta dari stasiun Bekasi. Rencananya saya akan turun di stasiun palmerah, tetapi karena ternyata saya sudah terlambat, saya memilih untuk turun di stasiun karet dan naik ojek hingga ke DPR. Sampai di kompleks gedung DPR saya bertemu teman-teman saya yang berangkat bersama dari kampus tercinta. Segera kami menuju gedung nusantara 2 (kalau tidak salah) karena Museum DPR terletak disana. Ini pengalaman pertama saya memasuki kompleks gedung DPR, lingkungannya bersih, sunyi dan nyaman. Museum terletak di lantai 2, saya sendiri baru tahu kalau DPR punya museum dari dosen, memang museum ini tidak bisa dikunjungi oleh publik secara umum, harus memiliki izin untuk mengunjunginya.

IMG_20150922_140650

Berikut dibawah ini merupakan laporan yang saya buat untuk tugas pengantar museologi yang berisi tentang Museum DPR RI.

Sejarah Singkat Museum DPR RI

Prakarsa pembuatan Museum DPR RI dimulai pada periode DPR 1987 – 1992 dengan Pimpinan DPR-RI saat itu M.Kharis Suhud sebagai Ketua. Pada tahun 1997 museum ini diresmikan dengan Ketua DPR RI yang saat itu dipegang oleh Bapak H.Harmoko. Atas prakarsa nya, maka museum DPR RI dikembangkan dengan menambah koleksi baik barang,naskah maupun foto serta diupayakan menempati ruang dan gedung yang representatif untuk Museum DPR RI. Tanda tangan ketua DPR kala itu, Harmoko, terukir di dekat pintu keluar sebagai penanda peresmian museum ini pada 1997 silam.

IMG_20150922_142144

Pada Bulan Juni-Agustus 2015, Museum DPR RI dirancang ulang atas kerjasama Sekretaris Jenderal DPR RI dan Universitas Indonesia (Tim Departemen Arkeologi FIB UI, Program Studi Arsitektur Interior FTUI dan Center for Election and Political Party FISIP UI)

 

Koleksi Museum DPR RI

Museum DPR RI memiliki berbagai macam koleksi benda benda bersejarah yang terkait dengan aktivitas DPR sejak jaman belanda.

Koleksi yang terdapat di Museum DPR RI meliputi:

  1. Peralatan yang digunakan DPR pada periode tertentu
  2. Seragam yang digunakan DPR pada periode tertentu
  3. Foto anggota DPR
  4. Maket kompleks gedung DPR
  5. Dinding yang berisi tentang sejarah DPR
  6. Patung
  7. Lukisan
  8. Alat musik

Tata Letak dan Ruang Pamer Museum DPR RI  

Museum DPR RI memiliki tata letak yang atraktif dan koleksi yang cukup menarik, setelah memasuki Museum pengunjung langsung disajikan dengan dinding di sebelah kiri yang berisi sejarah kronologis DPR RI sejak jaman belanda, dimulai dari Volksraad hingga ke bentuk DPR sekarang. Kemudian terdapat peralatan yang pernah digunakan oleh DPR seperti kamera, mesin tik, palu dan berbagai macam peralatan lainnya.

Tata letak secara umum disusun berdasarkan kronologis, sehingga dapat memberikan informasi yang runut tentang sejarah DPR RI. Pengujung juga diajak untuk berinteraksi dengan koleksi yang ada di Museum DPR seperti mengemukakan pendapat mereka terhadap informasi yang disajikan pada dinding sejarah tersebut dan terdapat juga voting koleksi yang paling baik dengan menggunakan kancing.

Museum ini memiliki satu ruang yang berisi alat music tradisional milik DPR RI dan terdapat sofa panjang sebagai tempat istirahat bagi pengujung serta diseberang ruang ini terdapat toilet yang disediakan untuk pengunjung. Namun, di salah satu sudut Museum DPR RI masih terdapat ruang yang minim pencahayaan dan Koleksi yang minim informasi.

Museum DPR RI dengan segala sarana dan prasarana didalamnya telah mampu menjadi suatu tempat yang bersifat rekreatif untuk dikunjungi karena memberikan informasi yang bersifat edukatif dan penyajian koleksi yang cukup atraktif sehingga dapat dijadikan obyek foto yang menarik. Dengan mengunjungi Museum DPR RI, pengunjung diharapkan akan mengetahui banyak wawasan baru tentang sejarah DPR RI.

Dokumentasi

IMG_20150922_141958-q

Ruangan yang berisi alat musik tradisional

IMG_20150922_142706-q

Penjelasan Komisi-Komisi dalam DPR

IMG_20150922_143213-q

Sarana museum yang mengajak pengunjung untuk bersikap partisipatif

IMG_20150922_141505-q

Pakaian pimpinan MPRS pada tahun 1960-1961

IMG_20150922_141600-q

Suasana di dalam Museum DPR

IMG_20150922_141518-q  IMG_20150922_141624-q

Masjid Al-Alam Marunda, Bukti Peninggalan Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta

Masjid Al-Alam Marunda atau dikenal juga oleh penduduk setempat sebagai masjid si pitung merupakan masjid yang sudah berumur ratusan tahun, masjid ini dibangun pada abad 16. Ada sebagian masyarakat juga mempercayai masjid ini adalah masjid ghaib karena proses pembuatannya hanya 1 hari. Selengkapnya dapat anda lihat pada paper saya dibwah ini.




 Masjid Al-Alam Marunda: Bukti Peninggalan Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta

Oleh:
Muhammad Jazmi Dwi Hartono




Pendahuluan

Jakarta adalah salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara. Hal ini diperkuat dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah bercorak islam seperti masjid dan makam di daerah Jakarta sejak abad 16. Masuknya Islam ke Jakarta diawali dengan penaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa oleh pasukan Islam yang dipimpin Fatahillah. Setelah kemenangan tersebut Fatahillah mendirikan markas prajurit islam dan juga masjid di daerah Marunda. Masjid yang didirikan oleh Fatahillah dan pasukan Islam menurut penduduk setempat hanya dibangun selama satu hari yaitu Masjid Al-Alam Marunda. Masjid ini oleh Fatahillah difungsikan sebagai tempat penyusunan strategi dan benteng pertahanan pasukan Islam. Berbatasan langsung dengan laut di sebelah barat dan utara, Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid si Pitung dan menjadi kebanggan oleh penduduk setempat.

Sejarah Singkat Masjid Al-Alam Marunda

Terdapat berbagai versi mengenai sejarah didirikannya Masjid Al-Alam Marunda. Namun versi yang paling terkenal menerangkan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1527 oleh Fatahillah bersama dengan pasukannya sebagai rasa syukur atas penaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu masih dikuasai oleh Portugis. Ada juga yang mengatakan bahwa Masjid ini dibangun oleh para prajurit Sultan Agung. Tetapi menurut salah satu sesepuh Masjid Al-Alam Marunda yang bernama Haji Sambo Ishak, Masjid ini dibangun oleh Wali Songo pada tahun 1640. Menurut penuturan Haji Sambo, masjid ini juga merupakan tempat persembunyian si Pitung dari kejaran belanda, hal tersebut membuat masjid ini juga dikenal dengan nama masjid si Pitung. Beredar juga cerita bahwa masjid ini hanyalah salah satu dari sembilan masjid yang dibangun oleh Wali Songo dalam waktu semalam dan terbuat secara alamiah ( Ghaib ) itulah kenapa masjid ini diberikan nama Al-Alam.

Pada tahun 1970 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung berupa plastik pada bagian bawah atap agar terlindung dari kelembaban dan siraman air hujan, pembuatan tanggul di sisi utara masjid untuk melindungi masjid dan ancaman abrasi pantai. Masjid Al-Alam Marunda telah menjadi benda cagar budaya sejak tahun 1975 sehingga segala kebutuhan masjid ini dibiayai oleh pemerintah. Tahun 1989 masjid ini mengalami perluasan dengan tambahan dua buah serambi di bagian depan dan sisi utara masjid, serta tempat berwudhu dan toilet di sisi selatan.


Lokasi Masjid

Masjid Al-Alam Marunda terletak di tepi pantai Marunda, Utara Kota Jakarta yang berdekatan dengan Bekasi. Lokasi tepatnya yaitu di Jalan Marunda Besar RT 09 RW 01, Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Provinsi Jakarta Utara. Sebelah utara dan barat berbatasan dengan laut dan sebelah selatan dan timur berbatasan dengan pemukiman penduduk.Untuk menuju masjid ini harus melalui jalanan sempit dan cukup berliku yang dipenuhi truk container karena lokasi masjid memang berdekatan dengan kawasan peti kemas di daerah Jakarta Utara. Sekitar 300 m sebelum sampai ke masjid terdapat rumah si Pitung, setelahnya jalan yang dilalui merupakan jalanan di pinggir rawa, bangunan sekolah dan rumah penduduk hingga sampai pada lokasi masjid.



Deskripsi Bangunan Masjid

Masjid Al-Alam Marunda memiliki ukuran yang relatif kecil. Masjid ini tampak sederhana dibanding masjid pada umumnya, dibangun dengan gaya tradisonal dan memiliki corak arsitektur betawi. Bangunan masjid dikelilingi dengan pagar beton dengan cat putih di sisi utara, timur, selatan dan barat. Gerbang utama menuju halaman masjid terletak pada sisi selatan. Sedangkan bangunan masjidnya terletak di sisi bagian timur. Halaman masjid di bagian selatan dilapisi ubin berwarna merah, tempat ini berfungsi sebagai tempat shalat ketika ruangan masjid penuh. Tempat wudhu terletak di sisi selatan, di tempat wudhu ini terdapat sumur yang dahulu berfungsi untuk mengambil air wudhu. Tepat di sebelah bangunan utama masjid, terdapat makam para pengurus masjid. Untuk menghindari abrasi pantai masjid ini dibatasi dengan batu cadas.

Bangunan utama masjid berbentuk persegi berukuran 12 x 12 m menghadap ke selatan. Di sisi selatan terdapat serambi berbentuk persegi panjang dengan pintu masuk terletak di tengah. Pintu masuk ke ruang utama pada bangunan masjid terdapat di sisi selatan dan timur. Dinding serambi bagian bawah terbuat dari tembok dan bagian atas dari teralis kayu yang disusun secara vertikal. Memiliki atap berbentuk limas tumpang dua yang terbuat dari genteng.

Serambi pada masjid Al-Alam Marunda memiliki empat jendela, dua di sisi timur dan masing-masing satu di sisi utara dan selatan. Di dalam serambi terdapat pintu masuk ke ruangan utama masjid. Ruangan serambi ini dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menunggu waktu shalat. Terdpat Bedug yang disangga oleh empat buah kayu yang dibentuk menyilang di sisi kiri serambi. Pintu masuk ke ruang utama masjid terletak di tengah serambi dengan ukuran 190 cm dan lebar 70 cm.

Ruang utama masjid memiliki bentuk persegi dengan ukuran 8x8m, dan tinggi plafon yang cukup rendah yaitu hanya 2,2 m, lantai sudah dilapisi ubin yang ditutupi karpet berwarna hijau. Dinding pada ruanagn masjid terbuat dari tembok berwarna putih. Masing-masing dinding memiliki dua jendela dengan ukuran yang berbeda. Semua jendela pada ruangan ini hanya menggunakan teralis yang terbuat dari kayu bulat bergelombang dan disusun secara vertikal. Ruangan ini ditopang dengan empat buah tiang utama sebagai penyangga yang terbuat dari beton. Tinggi tiang dari lantai hingga keatas adalah 206 cm. Bagian bawah tiang berbentuk empat persegi dan pada bagian kaki terdapat umpak berukuran 85 x 85 cm dengan ketinggian 16 cm dari lantai. Tiang bagian atas berbentuk lingkaran, yang semakin ke atas semakin mengecil dan pada bagian atas terdapat susunan pelipit. Selain tiang utama, terdapat tiga buah tiang semu yang menempel pada dinding bagian barat. Tiang semu ini membentuk dua buah relung atau lingkaran di atasnya. Pada lengkungan terdapat hiasan kaligrafi dengan kalimat syahadat. Bagian atas tiang ini dihiasi pelipit, bagian tengah terdapat hiasan garis vertikal. Mihrab terletak di bagian barat ruang utama yaitu di dalam relung sebelah kanan berukuran 1.15 x 1.5 m dengan tinggi 2.1 m, sedangkan di dalam relung sebelah kiri terdapat mimbar yang terbuat dari beton dengan tiga anak tangga. Pada dinding belakang mimbar dan mihrab bagian tengahnya dihiasi dengan bentuk kelopak buang dan diatasnya terdapat ventilasi udara berukuran 33 x 53 cm.

Di sebelah timur bangunan masjid terdapat bangunan tambahan berbentuk persegi dan tidak memiliki dinding. Permukaan bangunan ini dibuat lebih tinggi sekitar 80 cm dan untuk memasuki ruangannya terdapat empat buah anak tangga di sisi barat, lantai pada bangunan ini terbuat dari ubin. Atap pada bangunan ini disangga dengan 12 tiang pada keempat sisinya. Atap bangunan berbentuk tumpang yang dilapisi genteng. Bangunan ini biasanya dipergunakan untuk pengajian. Di sebelah tenggara terdapat bangunan kecil berukuran 2 x 3 m yang berfungsi sebagai WC.


Penutup

            Masjid Al-Alam Marunda merupakan bukti perkembangan Islam di Jakarta, meskipun terdapat berbagai versi sejarah yang beredar pada masyarakat. Masjid ini ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar ataupun orang dari luar daerah, karena masjid ini memiliki daya tarik tersendiri tentang mitos pendirian yang beredar, sebagian masyarakat juga meyakini bahwa air pada sumur di masjid ini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Jika lebih diperhatikan lagi masjid berumur ratusan ini dapat menjadi salah satu tujuan wisata religi di kota Jakarta, karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, MASJID KUNO INDONESIA.

Zein, Abdul Baqir,1999, Masjid-masjid bersejarah di Indonesia.

Anandita Ayudya., Anasthasia R Y Sadrach., 2009, 99 tempat Liburan akhir pekan di pulau Jawa dan Madura.

Shahab, Alwi, MARUNDA MARKAS BALATENTARA ISLAM, http://himpunan-aidid.org/?load=baca_artikel.php&bid=16

Pardede, Dora, 2011, Mesjid Al-Alam, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Ibukota Jakarta, http://www.kompasiana.com/dorapardede/mesjid-al-alam-saksi-bisu-perjalanan-sejarah-ibukota-jakarta_550eca2fa33311ad2dba81d7

http://www.rumahruqyah.com/2015/05/masjid-al-alam-ii-dibangun-secara-ghaib.html?m=1

http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Masjid_Al_Alam


Sebenarnya saya memiliki beberapa foto Masjid Al-Alam Marunda yang saya dapat dari ebook yang beredar di internet. Jika anda ingin melihatnya bisa kontak saya.

Mengenal kuliah di jurusan Arkeologi

Ga berasa udah hampir sebulan saya duduk di bangku kuliah dan menyandang gelar mahasiswa arkeologi universitas indonesia 2015. Jadi apa aja sih yang dilakuin sama mahasiswa arkeologi? apa aja yang dipelajarin? gimana prospeknya? mudah mudahan akan terjawab oleh artikel saya yang satu ini.

IMG_20150909_092608_compressed

Simulasi situs Arkeologi di Universitas Indonesia

Apa saja yang dipelajari di jurusan Arkeologi?

Karena saya masih semester pertama, saya cuma ngasih tau apa yang bakal kamu pelajarin kalo masuk ke jurusan atau program studi Arkeologi Universitas Indonesia di semester pertamax ini.

Mulai dari mata kuliah, kamu bakalan dapet 6 mata kuliah yang terdiri dari MPKTA, MPK O/S, dan 4 Mata Kuliah Prodi yaitu: Pengantar Arkeologi, Pengantar Arkeologi Tekstual, Pengantar Museologi, dan Kepurbakalaan Indonesia dengan total 19 SKS. Mungkin masih awam sama mata kuliah prodi arkeologi ya? oke saya jelasin lebih rinci lagi.

Pengantar Arkeologi

Di matkul ini, bakal dijelasin tentang arkeologi secara umum, apa sih arkeologi, apa aja bidang yang dipelajari arkeologi, apa aja yang bisa dilakukan mahasiswa arkeologi setelah lulus nanti. Minat kamu terhadap Arkeologi diharapkan akan lebih berkembang dan kamu bakalan tahu bidang apa yang akan ditekuni dalam ilmu arkeologi dengan mempelajari mata kuliah ini.

Pengantar Arkeologi Tekstual

Buat yang seneng belajar bahasa yang anti mainstream, kamu bakal suka matkul ini, karena di matkul ini kamu bakalan mempelajari tulisan dari masa lalu sejak kemunculan aksara hingga berkembang ke beberapa bahasa. Karena ini matkul pengantar jadi baru dikenalkan dengan beberapa tulisan seperti arab kuna, jawa kuna, sunda kuna dll

Pengantar Museologi

Matkul ini cocok buat kamu yang seneng dengan dunia permuseuman. Di matkul ini kamu bakal mempelajari hal-hal tentang museum, mulai dari sejarah perkembangannya, sistem pengelolaan hingga melakukan penelitian tata letak museum. Pasti kamu bakalan suka karena bakalan ada kunjungan museum, saat artikel ini ditulis saya baru saja menyelesaikan laporan hasil kunjungan ke Museum DPR RI, asyik kan hehe

Kepurbakalaan Indonesia

Suka dengan zaman purba? maka matkul ini bakalan pas buat kamu! kita bakalan mempelajari tentang masa lalu indonesia dari masa prasejarah sampai zaman kolonial. Belajar matkul ini bakalan seru abis karena kamu diajak mempelajari kebudayaan lintas waktu dari masa ke masa. Kamu juga bakala tau apa aja sih jenis jenis peninggalan purba dari masa prasejarah.

 

Gimana prospek mahasiswa jurusan Arkeologi setelah lulus nanti?

Ini pasti menjadi pertanyaan besar bagi kamu yang masih ragu untuk masuk jurusan / program studi arkeologi, ya kan? Ini membuat saya ,encoba mengingat kembali salah satu ucapan dosen Arkeologi saat orientasi fakultas, beliau mengucapkan kurang lebih bahwa dengan kita mempelajari arkeologi maka kita mempelajari akar dari kebudayaan, kita akan tahu bagaimana suatu kebudayaan dari awal terbentuk hingga sekarang dengan segala prosesnya, dengan demikian jika kita sudah mengetahui kebudayaan masyarakat tertentu, maka dapat dengan mudah kita menguasai sesuatu pada kebudayaan tersebut.

Arkeologi memiliki berbagai cabang yang bisa dikembangkan seperti Museologi, Etnoarkeologi, Epigrafi dan banyak lainnya sehingga kamu diberikan banyak pilihan jika ingin meneruskan belajar atau berkarir di bidang arkeologi. Jika kamu berminat bekerja dibidang arkeologi kamu bisa kerja di museum, cagar budaya, pariwisata, atau di pusat penelitian arkeologi nasional dan masih banyak lagi. Seandainya kamu tidak berminat meneruskan atau berkarir di arkeologi kamu juga dapat bekerja di bidang lain seperti menjadi pegawai bank, salah satu lulusan arkeologi bahkan kini ada yang menjadi kepala cabang bank, karena di arkeologi kamu juga akan diajari meneliti suatu obyek sehingga interpretasi yang kamu buat sesuai dengan keadaan sebenarnya dan hal tersebut dibutuhkan untuk menganalisa berbagai macam hal pada saat ini.

IMG_20150911_160620_compressed

Simulasi kotak eskavasi di FIB UI

Kuliah arkeologi itu sangat menyenangkan karena kamu bakalan belajar sejarah sekaligus dapat melakukan penelitian langsung terhadap benda benda bersejarah, dengan begitu kamu akan mengetahui berbagai macam kebudayaan dan mempunyai wawasan yang luas. Arkeologi juga cocok untuk kamu yang hobi travelling dan suka jalan jalan, karena akan terdapat banyak kunjungan ke museum, situs sejarah dan bahkan kuliah kerja nyata eskavasi di situs arkeologi.

Semoga dengan artikel yang saya buat ini bisa mengenalkan jurusan arkeologi dan membuat kamu lebih yakin untuk memasuki jurusan / program studi arkeologi.