Studi Kasus Lahan Parkir Liar di Jakarta

Pada artikel kali ini saya akan membagikan tugas paper mpkta buatan saya sendiri barangkali bisa menjadi referensi untuk kalian yang mempunyai tugas paper saya menguraikan peran otak, kepribadian, logika dan etika dalam kehidupan masyarakat yang berbudaya dengan studi kasus lahan parkir liar yang terdapat di jakarta, silahkan dipelajari dibawah ini.

studi kasus parkir liar di jakarta

Diambil dari satuharapan.com (Foto: Tunggul Tauladan)

PERAN OTAK, KEPRIBADIAN, LOGIKA, DAN ETIKA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG BERBUDAYA

“Studi Kasus: Lahan Parkir Liar di Jakarta”

Padatnya daerah komersial di Jakarta menyebabkan kekurangan lahan parkir untuk kendaraan bermotor, hal tersebut dimanfaatkan oleh orang untuk dijadikan ladang bisnis mereka. Banyak orang memanfaatkan hal ini dengan membuat lahan parkir liar di sekitar daerah komersial seperti pada daerah pasar ataupun pertokoan. Hanya dengan menggunakan seragam dengan logo pemerintah Jakarta, mereka bertindak seperti petugas penjaga parkir resmi. Petugas lahan parkir liar mengklaim bahwa dalam sehari mereka bisa mendapatkan ratusan ribu rupiah. Sebagian dari mereka mengaku memberikan setoran kepada oknum dinas perhubungan dan preman setempat, mereka juga mempunyai back up dari kalangan aparat agar lahan parkir mereka tetap aman. Selain membuat kemacetan karena biasanya terletak di pinggir jalan, lahan parkir liar juga dianggap sangat meresahkan, karena biaya parkir yang diminta terkadang terlalu besar terutama lahan parkir liar yang dijaga oleh ormas tertentu. Uang retribusi lahan parkir yang diterima oleh pemerintah Jakarta juga dinilai tidak sesuai dan mengalami kerugian yang cukup besar akibat lahan parkir liar. Untuk menangani hal ini pemerintah telah merumuskan solusi yang tepat yaitu dengan merubah sistem lahan parkir menggunakan teknologi seperti sistem e-parking, sehingga pendapatan pemerintah dari lahan parkir dapat dioptimalisasikan dan lahan parkir dapat terkontrol. Petugas-petugas lahan parkir liar juga akan diberdayakan oleh pemerintah, hanya saja karena pembayaran dilakukan menggunakan e-parking jadi para petugas parkir tersebut akan digaji oleh pemerintah. Sistem ini direncanakan akan diterapkan oleh pemerintah Jakarta pada tahun 2016.

Makalah ini akan menjelaskan tentang peranan otak, kepribadian, logika, dan etika pada kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan lahan parkir liar di Jakarta.

Otak

Menurut MacLean (1990), Otak berevolusi dalam tiga periode besar yang membentuk tiga lapisan. Lapisan yang paling tua dikenal sebagai R-Complex disebut juga sebagai otak reptil, lapisan ini bertanggung jawab pada pola perilaku bawaan yang penting untuk kelangsungan hidup dengan fungsi mengendalikan semua gerakan involunter yang dibutuhkan, otak reptil dapat memberikan gerakan refleks untuk mempertahankan hidup tanpa memikirkan secara cermat apa yang dilakukannya.

Lapisan kedua Limbic system disebut juga otak mamalia, memegang peranan penting dalam emosi serta motivasi. Lapisan ini juga bertanggung jawab atas pembelajaran dan memori.

Lapisan otak yang terakhir yaitu Neocortex adalah lapisan teratas yang mengelilingi Otak Mamalia dan hanya dimiliki oleh jenis mamalia. Neocortex berfungsi saat memerlukan pemecahan yang rumit. Besar Neocortex pada manusia membuatnya memiliki kemampuan berpikir abstrak, transendens, dan tidak terbatas pada hal yang dialami saat ini. Salah satu kelebihan dari kemampuuan berpikir ini membuat manusia dapat melakukan introspeksi diri dan membuaat perencanaan untuk mengembangkan diri.

Kepribadian

Kepribadian sering dikaitkan dengan kata ‘Personality’ dalam bahasa Inggris, yang berasal dari kata ‘Persona’ dalam bahasa latin yang berarti ‘kedok atau topeng’ yaitu “tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung pada zaman Yunani kuno yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak dan pribadi sesorang” (Agus Sujanto, 1997).

Menurut Allport, kepribadian adalah “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustment to his unique adjustment to his environment” yang artinya “Kepribadian itu adalah organisasi dinamis dari keseluruhan sistem psiko-fisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya”.

Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis, berarti dapat berkembang seiring waktu sehingga bersifat fleksibel dan tidak tetap serta dapat mengalami perubahan, yang berkaitan dengan keadaan fisik dan juga psikis manusia.

Logika

Istilah logika digunakan untuk menyebut cabang filsafat yang mengkaji prinsip, aturan, dan metode berpikir yang benar oleh Alexander Aphrodisias sekitar permulaan abad ke 3 M. Dalam matematika logika dikaji dalam kaitannya dengan upaya menyusun bahasa matematika yang formal, baku, dan jernih maknanya, serta dalam kajian tentang penyimpulan dan pembuatan pernyataan yang benar. Logika merupakan alat yang dibutuhkan dalam kajian berbagai ilmu pengetahuan dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Logika memungkinkan manusia memahami seluk-beluk dan dinamika alam beserta isinya, meneraangkan, meramal, dan menata alam. Berbagai persoalan manusia dapat terselesaikan dengan bantuan logika.

Etika

Secara etimologis, istilah etika berasal dari kata Yunani “ethikos” yang berarti “adat”, “kebiasaan”, atau “watak” (Pritchard, 2012,1). Etika mengacu kepada seperangkat aturan-aturan, prinsip-prinsip atau cara berpikir yang menuntun tindakan dari suatu kelompok tertentu. Kata etika spesifik mengacu kepada studi sistematis dan filosofis tentang bagaimana kita seharusnya bertindak (Borchert, 2006, 279).

Petugas Lahan Parkir Liar

Sudah delapan tahun Gibson menjadi tukang parkir di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Saban hari dia menongkrongi salah satu jalan buat menyatroni kendaraan yang bakal parkir. Buat menjadi penguasa parkir di wilayah itu, Gibson harus duel dengan para preman-preman di daerah itu (merdeka.com).

Dari kutipan berita tersebut dapat diketahui bahwa untuk menjadi seorang petugas lahan parkir juga dibutuhkan usaha yang bahkan sampai mempertaruhkan nyawa seseorang. Meskipun begitu tetap saja banyak orang yang menggeluti bisnis lahan parkir, karena dalam logika mereka bisnis ini bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Dalam kasus ini penguasa lahan parkir liar bernama Gibson mengaklaim dirinya bisa mendapatkan minimal 500 ribu rupiah per harinya. Gibson menguasai 7 lahan parkir liar di daerah pertokoan di Jakarta Timur. Untuk menguasai lahan tersebut ia pernah berkelahi dengan preman setempat. Untuk menjaga kemanan lahan parkirnya dia juga menyuap oknum kepolisian.

Gibson tidak lagi peduli dengan etika yang berlaku di masyarakat, yang dia inginkan hanyalah memperoleh keuntungan yang besar dan untuk memperoleh hal tersebut dia rela hingga mempertaruhkan nyawanya. Kemampuan otaknya untuk menginstrospeksi diri seperti tidak dimilikinya.

Seorang petugas parkir lainnya yang bernama wardi juga menyatakan bahwa ia sadar bahwa banyak orang yang tidak suka dengan pekerjaannya, namun dia memaklumi hal tersebut dengan alasan menjadi petugas lahan parkir merupakan cara dia mendapatkan uang. Hal tersebut menunjukkan ketidakpedulian wardi tentang pandangan masyarakat. Meskipun dia sadar bahwa masyarakat tidak menyukainya namun ia memilih untuk tidak peduli apakah pekerjaan yang dilakukannya itu benar atau tidak, karena semata-mata dia bekerja untuk mencari uang. Hal tersebut merupakan cara penggunaan logika yang salah dan merupakan contoh tindakan yang tidak beretika.

Tanggapan Pemerintah Terhadap Lahan Parkir Liar

Gubernur DKI Jakarta, Ahok cukup geram dengan maraknya lahan parkir liar di DKI Jakarta. Ahok berencana mempidanakan tukang parkir liar yang kerap menggunakan bahu jalan, ia juga meminta TNI dan Kepolisian membantu menertibkan parkir liar tersebut. Dari penghitungan Ahok, potensi pendapatan Pemprov DKI jika parkir dikelola dengan baik bisa mencapai Rp 1,8 triliun saban tahun.

Ahok dapat dikatakan memiliki kepribadian yang tegas, ia dengan berani menindak langsung terhadap pelaku yang membuat lahan parkir liar di bahu jalan. Meskipun begitu ia juga perlu memikirkan cara untuk tetap memberdayakan petugas parkir liar tersebut agar tidak meningkatkan angka pengangguran di DKI Jakarta.

Kepala bagian keuangan UPT Parkir Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Siswanto membenarkan jika ada oknum petugas yang menjadi beking lahan parkir di Jakarta. Untuk menghindari hal tersebut, Siswono menjelaskan jika Pemprov DKI berencana memasang mesin parkir elektrik. Tujuannya ialah mengoptimalkan pendapatan daerah dari lahan parkir, sekaligus mengurangi gesekan di lapangan antara juru parkir(merdeka.com).

Tindakan Siswanto ini menggambarkan bahwa pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menambahkan pendapatan daerah dari lahan parkir. Selain itu Siswanto juga bernecana untuk tetap mempekerjakan para petugas parkiran liar di jakarta dan memberikan gaji bulanan. Hal tersebut ditujukan agar tidak ada lagi penyimpangan yang dilakukan dalam pembayaran parkir.

Penutup

Sedikitnya keterampilan yang dimiliki seseorang, membuat dirinya cenderung mencari suatu pekerjaan yang mudah namun tetap mendapatkan penghasilan yang besar. Pada kasus petugas parkir liar ini, beberapa dari mereka sudah menyadari bahwa pekerjaan yang mereka geluti itu tidak disukai oleh masyarakat namun karena mereka tidak memiliki keahlian lain, mereka tetap melakukan pekerjaannya walaupun dapat membahayakan nyawa mereka. Pandangan masyarakat oleh mereka sudah tidak berarti lagi, mereka seolah-olah tidak menggunakan pikiran rasional mereka dan hanya mementingkan keuntungan semata.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan lahan parkir liar, namun karena adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang justru melindungi petugas parkir liar ini menyebabkan lambatnya penertiban yang dilakukan. Jika seluruh aparat pemerintahan memiliki kepribadian yang baik dan tidak ada yang menyimpang dapat diperkirakan bahwa penertiban lahan parkir liar akan berlangsung dengan cepat. Pemerintah juga telah menciptakan solusi untuk para petugas parkir liar dengan tetap mepekrjakan mereka dan diberikan gaji bulanan serta mengganti sistem pembayaran parkir menggunakan dengan e-parking dengan biaya berdasarkan waktu tiket, hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyimpangan pembayaran parkir.

Daftar Pustaka

Takwin, Bagus, dkk. Progam Pengembangan Kepribadian Pendidikan Tingi Buku Ajar I. 2015. Depok.

Singgih, Evita, dkk. Progam Pengembangan Kepribadian Pendidikan Tingi Buku Ajar II. 2015. Depok.

http://www.merdeka.com/khas/cegah-pungli-dengan-teknologi-bisnis-parkir-liar-3.html (akses: 3 Desember 2015)

http://www.merdeka.com/khas/melongok-bisnis-parkir-liar-di-jakarta-bisnis-parkir-liar-1.html (akses: 3 Desember 2015)

http://www.merdeka.com/khas/bisa-tajir-meski-cuma-tukang-parkir-bisnis-parkir-liar-2.html (akses: 3 Desember 2015)

Leave a Reply