Ringkasan Sejarah Kerajaan Kutai dari Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2

Bukti-bukti tertuaa akan adanya suatu kehidupan masyarakat yang bercorak keindiaan yaitu terdapat di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Dengan ditemukannya arca bercorak buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Di kota bangun kalimantan timur ditemukan arca buddha yang memperlihatkan langgam seni arca Gandhara. Menurut Foucher dan Bosch, ciri seni Gandhara tampak pada sikap tangan dan hiasan jala pada telapak tangan arca Buddha Kota Bangun. Selain arca Buddha ditemukan juga arca hindu diantaranya mukhalingga dan ganesa.

Pada tahun 1879 di daerah kalimantan timur tepatnya di bukit berubus, muara kaman ditemukan beberapa buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu. Tiang batu itu disebut yupa, nama tersebut diambil dari prasasti itu sendiri. Hingga saat ini sudah 7 yupa yang ditemukan. Semuanya dikeluarkan atas titah seorang penguasa yang bernama mulawarman.

Salah satu isi dari yupa adalah mengenai silsilah mulawarman. Disebutkan bahwa pendiri keluarga kerajaan (wangsakarta) adalah Aswawarman bukan Kudungga. Prasasti lain berisi tentang perkara yang telah disedekahkan oleh sang raja mulawarman sebagai pengingat kebaikan budi sang raja.

Selain archa Buddha dan Yupa, ditemukan pula peninggalan yang menunjang bukti keberadaan kerajaan Mulawarman dan bahkan masa sebelumnya. Peninggalan tersebut terdapat di gua sepanjang Sungai Jelai, Tepian Langsat, Kabupaten Kutai Timur yang berupa lukisan cap tangan pada dinding gua. Di bukit berubus selain ditemukan yupa banyak arca-arca perunggu oleh para penggali liar pada tahun 1990an. Ekskavasi yang diadakan di situs tersebut menemukan sisa bangunan dari batu kapur (mungkin candi), tetapi tinggal pondasi bangunan saja. Dan beberapa fragmen berpelipit yang jelas merupakan komponen bangunan, diperkirakan tempat tersebut menjadi tempat kegiatan keagamaan yang mungin sezaman dengan Mulawarman.

Wilayah lain yang memiliki peninggalan yaitu Desa Long Bangun, terdapa sebuah nandi dalam keadaan utuh. Kabupaten Kutai Timur yang ditemukan sejumlah arca yang mungkin lebih muda dari zaman Mulawarman, namun belum diketahui dengan jelas apakah memiliki hubungan dengan kerajaan mulawarman.

Keluarga raja pada waktu itu terbatas pada keluarga kerajaan yang telah menyerap budaya india. Menurut prasasti penyerapan budaya terlihat pada waktu Aswawarman, anak Kudungga, menjadi raja, yaitu dipergunakannya nama yang berbau india sebagai nama pengenal. Oleh karena itu yang dianggap sebagai pendiri keluarga raja adalah Aswawarman dan bukan Kudungga.

Di dalam agama Hindu seseorang dapat diterima kembali kastanya melalui upacara penyucian diri yang disebut vratyastoma. Upacara vratyastoma dijadikan masyarakat indonesia untuk meresmikan sebagai anggota masyarakat dalam suatu kasta di agama Hindu.

Prasasti yang ditemukan tidak sedikitpun berbicara tentang masyarakatnya. Ditulisnya prasasti-prasasti mulawarman dengan mepergunakan bahasa Sanskerta dan Pallawa, merupakan petunjuk bagi kita untuk menduga keadaan masyarakatnya. Beberapa istilah dalam prasasti belum dapat dimengerti dengan jelas, misalnya jivadana.

Kita lebih banyak tahu kehidupan keagamaan pada zaman Mulawarman. Semua prasasti yang ditemukan membicarakan tentang upacara selamatan di dalam memperingati salah satu kebaikan atau pekerjaan yang dilakukan oleh Mulawarman. Mulawarman adalah penganut agama hindu, dapat dilihat dari penyebutan nama Angsuman dan upacara sedekah yang bertempat di Waprakeswara.

Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa agama yang dipeluk sang raja Mulawarman ialah agama siwa. Dari bunyi semua prasastinya dapat diduga Mulawarman adalah seorang raja yang sangat baik hubungannya dengan kaum Brahmana.

Leave a Reply