Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Pemerintahan Khalifah Usman bin Affan

Usman lahir pada tahun keenam tahun gajah, ia memiliki nama lengkap Usman bin Affan bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abd Manaf bin Qushayyi bin Kilab. Seperti orang-orang Qurais pada umumnya, Usman termasuk orang yang boros pada masa remajanya, namun selain itu ia memiliki sifat yang sangat baik, rendah hati, jujur dan pemalu. Usman masuk ke dalam islam pada usia 34 tahun. Kemudian Usman menikahi Ruqayyah. Setelah Ruqayyah wafat, Usman menikah dengan Umi Kalsum, adik Ruqayyah. Tetapi Umi Kalsum juga meninggal menyebabkan kesedihan bagi Usman.

Pada awal Muharram 24 H, Usman diangkat menjadi khalifah setelah Umar wafat melalui pendekatan panjang oleh majelis syura yang telah dibentuk oleh Umar, khalifah sebelum usman. Ketika itu usianya hampir mencapai 70 tahun.

Terdapat beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, yaitu:

  1. Pengusiran Pasukan Romawi dari Mesir

Pasukan Romawi mendarat di Iskandariah pada bulan-bulan pertama tahun 25 H (664 M). Pihak Arab kebingungan menghadapi situasi ini. Setelah meminta pendapat dari madinah, mereka mengutus Amr bin Ash untuk menghadapi situasi tersebut. Pasukan Romawi menjelajah Mesir Hilir tanpa menemui perlawanan. Namun Amr bin Ash sedang mempersiapkan pasukannya di Babilon yang berjumlah 15.000 orang dengan keyakinan bahwa jika mereka tidak mampu mengalahkan pasukan Romawi, setidaknya mereka akan terpukul mundur kembali ke Semenanjung Arab. Dalam waktu singkat Amr bin Ash mampu mencapai tujuannya. Kemenangan diraih Amr bin Ash dan Mesir akhirnya mampu dibebaskan dari Pasukan Romawi.

 

  1. Pemecatan Amr bin Ash Sebagai Gubernur Mesir

Tidak ada informasi yang jelas mengenai pemecatan Amr bin Ash. Usman menunjuk Abdullah bin Abi as-Sarh sebagai gubernur Mesir. Ketika Abdullah memimpin pemerintahan Mesir, pendapatan pajak mengalami peningkatan. Usma mencela Amr atas hal itu, namun Amr menjawab bahwa Abdullah menaikkan pajak bagi orang mesir sampai 50% yang merupakan kerugian bagi rakyat Mesir. Abdullah menjabat sebagai gubernur Mesir hingga wafat pada tahun 36 H.

 

  1. Penyalinan Al-Qur’an

Khalifah Usman meminta mushaf yang telah dikompilasi pada zaman Abu Bakar hingga sekarang di tangan Hafshah yang merupakan putri Umar untuk dilakukan penyalinan. Usman menugaskan empat orang sahabat besar untuk mengedit teksnya dengan dialek Qurais. Mereka adalah Zaid bin Tsabit, Sabit bin al-Ash, Abdullah bin as-Zubair, dan Abdullah bin al-Harits bin Hisyam. Salinan itu dikirim ke beberapa wilayah yang telah dikuasai Islam. Selanjutnya penyalinan dan pendistribusian dilakukan oleh para ulama. Mushaf yang telah disalin itu dinamakan Mushaf Usmani. Naskah yang ada sebelumnya dan mempunyai perbedaan diperintahkan untuk dibakar oleh Usman.

 

Usman memberikan wewenang kepada orang dekatnya dari Bani Umayyah untuk mengelola kawasan tertentu, hal yang tidak diperkirakan oleh para sahabat. Usman juga membebaskan para sahabat ke manapun. Para sahabat yang saleh menyampaikan protes dengan berbagai cara. Sahabat Rasulullah, Abu Dzar al Ghifari memberikan peringatan atas kelalaian khalifah Usman. Abu Dzar pergi ke Syam ketika mendengar kemewahan yang dinikmati para amir di bawah pimpinan Mu’awiyah dan beberapa sahabat yang lain. Muawiyah mengadukan Abu Dzar ke khalifah Usman, sehingga Abu Dzar kembali ke Madinah. Sahabat lain yang melakukan kritik terhadap kebijakan Usman adalah Ammar bin Yasir dan Abdullah bin Mas’ud.

Perbuatan keluarga Usman yang memegang jabatan penting dan bertindak sewenang-wenang menyebabkan ketidakpuasan dan berahir menjadi suatu pemberontakan di berbagai daerah seperti Kufah, Basyrah hingga ke Mesir. Dengan propaganda yang dilakukan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi asal Yaman yang pura-pura masuk Islam, akhirnya para pemberontak menyerbu Madinah yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan.

 

Diringkas dari:

KHALIFAH USMAN BIN AFFAN, Muchlis Sulemang, UIN Alauddin Makassar, 2014

Leave a Reply