One Day Trip Perjalanan dari Depok ke Curug Ciherang sampai Gunung Batu

Kejenuhan seringkali kita jumpai sebagai mahasiswa. Saya juga termasuk salah satu orang yang tidak luput dari rasa jenuh. Wajar memang kejenuhan yang saya rasakan setelah cukup lama berkutat dengan pekerjaan. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk ikut melakukan perjalanan bersama teman saya pada tanggal 22 Oktober kemarin. Sebenarnya awalnya teman saya mengajak untuk mengunjungi leuwi hejo namun karena saya sudah pernah kesana tahun lalu, sehingga membuat saya agak malas untuk ikut. Tetapi ternyata yang ngajak jalan malah tidak bisa ikut dalam perjalanan hal itu baru saya ketahui ketika malam hari sebelum perjalanan saya berkumpul di kontrakan teman yang terletak di dekat flyover menuju margonda dari kelapa dua depok, mereka juga memang ikut dalam perjalanan. Pada malam itu akhirnya saya putuskan untuk mengajak mereka ke curug ciherang, alih-alih dengan mengatakan bahwa di curug ciherang keren ada rumah pohonnya. Padahal memang sebenarnya itu semata-mata hanya keinginan saya untuk pergi kesana dan kebetulan saat melihat-lihat tentang curug ciherang di Internet saya mengetahui bahwa disana ada rumah pohon yang menurut saya cukup istimewa. Beruntungnya mereka mau memindahkan destinasi ke curug ciherang sesuai keinginan saya.

Hari sabtu datang, hari itu saya bangun pukul 3.00 pagi sambil menunggu teman teman lain bangun saya memainkan handphone dengan masih berbaring diatas kasur. Namun, sayup-sayup saya mendengar suara hujan diluar, seketika muncul pikiran bahwa curug akan kotor jika sebelumnya hujan, kemudian rasa malas mulai muncul dalam diri saya takut jika nanti airnya akan kotor. Hingga akhirnya teman-teman bangun jam 5an, salah satu teman saya ada yang menyadari bahwa tadi habis hujan setelah melihat jemuran basah dan saya pun menyampaikan bahwa memang benar tadi hujan sebentar dan kemungkinan kita nanti akan mendapatkan air curug yang cokelat. Tetapi hal itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk tetap jalan-jalan ke curug ciherang. Kurang lebih kita berangkat jam 5.40 dari kontrakan. Perjalanan dilakukan oleh empat orang dan dua motor sudah termasuk saya didalamnya. Jalanan yang sempit membuat kita harus berjalan dengan lain jalur untuk menuju ke jalan raya. Saya sudah berniat untuk jalan menuju jl raya bogor lewat kelapa dua agar lebih cepat, namun teman saya memupuskan harapan tersebut karena mereka ternyata tidak melihat saya yang ada di pinggir jalan arah kelapa dua. Saya dan teman sudah berusaha memanggil mereka namun ternyata mereka tidak mendengar dan malah naik ke flyover menuju margonda. Dibawah margonda saya bertemu mereka dan menjelaskan apa yang barusan terjadi dengan tertawa, akhirnya teman saya memutuskan untuk bertukar tempat dengan tujuan agar dapat memperhatikan dengan motor saya. Di pinggir jalan depan seven eleven kami melihat tukang bubur dan singgah disana untuk sarapan dan menghabiskan 6000 untuk bubur dan 1000 untuk tukang parkir yang pada saat kami makan baru datang.

Setelah memakan bubur kita langsung berangkat lagi sekitar pukul 6.00, akhirnya karena kita sudah di Margonda agar tidak memutar balik kita memutuskan untuk berjalan melewati jalan juanda ke arah jalan raya bogor. Di jalan raya bogor kita minggir sejenak untuk melihat google maps selain itu kita juga minggir saat ada pom karena teman ingin isi bensin, saya pun sekalian mengis bensin yang pada saat itu sebenarnya masih setengah, tapi saya isi saja pertamax rp.10.000. Sepanjang jalan raya bogor masih cukup lengang, mungkin karena sabtu pagi tidak banyak yang bekerja, kami terus menelusuri jalan hingga sampai di persimpangan jalan raya mayor oking kami belok kiri lewat jalan tersebut. Saat sampai di daerah citereup kami sempat bingung karena jalannya satu arah kami harus melewati jalan yang memutar ke jalan arah cibadak. Di jalan arah cibadak ini ketika sudah masuk ke dalam pemandanagan di sekitarnya cukup indah dengan jalan aspal yang berkelok dan naik turun. Kami melalui beberapa persimpangan, pada persimpangan pertama pastikan memilih jalan ke arah jonggol dan di persimpangan kedua pilih jalan arah ciherang/cipanas. Jalan cukup rusak saat sudah ada di jalan menuju ciherang dan tanjakan yang dilalui pun cukup curam sehingga perlu menggunakan gear/gigi 1 untuk menaikinya, bahkan di motor teman saya sampai harus turun karena memaksakan gear/gigi 2. Persimpangan terakhir adalah yang menuju ke curugnya dan ke arah cipanas puncak, tentu saja kita memilih jalan ke curug karena kami memang ingin kesana.
jalan-ke-curug-ciherang
Kami sampai sekitar pukul 8.40, karena memang tidak terlalu dikebut semenjak awal. Di pos masuk sudah menunggu beberapa teteh dan aa. Biaya yang dikeluarkan untuk motor dan dua orang adalah 35000. Ada dua jalur menuju parkiran dan kami diinstruksikan untuk masuk ke jalur kiri yang berpagar. Kami melewati villa dan tempat flying fox, jalan menuju parkiran ini dibuat dengan batuan sehingga membuat pantat cukup panas saat melewatinya. Setelah memarkirkan motor kami pun berjalan melewati jalanan batu dan disamping kiri kami membentang struktur bangunan yang seperti punden berundak buatan manusia zaman sekarang sementara di samping kanan terhampar pemandangan yang hijau dengan perkebunan dan pegunungan. Berjalan sebentar kemudian tampak rumah pohon yang ternyata untuk memasukinya harus bayar 2000. Kami memutuskan untuk berfoto diluar saja dan jika ingin berfoto didalam nanti ketika perjalanan pulang saja. Naik keatas menyusuri jalan yang tampak seperti batuan yang baru disusun, semilir angin yang sejuk membuat perjalanan ke curug tidak terasa dan tau2 kami sudah sampai ke hulu dari curug ciherang ini. Disini masih sepi, karena ternyata kami masuk melewati jalur lain sehingga langsung ke curugnya. Berfoto sejenak lalu kami segera merendamkan badan melepas penat yang terpendam didalam raga ini. Airnya dingin namun masih bisa dinikmati, debit air menurut saya normal dan kedalamannya pun cenderung dangkal. Teman saya mencoba merasakan pijatan dari curugnya di bagian pinggir, sekilas ia tamoak menikmatinya namun tidak lama.
bagian-bawah-curug-ciherang
Puas berendam disini kami naik keatas dan menyusuri aliran dari curug ciherang ini. Saya tidak menduga bahwa ternyata aliran dari curug ini memanjang dan bisa direndami bahkan justru banyak orang yang berenang-renang dibelakang. Jalur berbeda yang kami lalui membuat semua ketidaktahuan ini. Sampai ke daerah parkiran, benar saja bahwa parkirannya berbeda sehingga kami harus berjalan memutar untuk menuju parkiran kami tadi. Sembari jalan kita bercerita dan teman saya mempunyai keinginan untuk mengunjungi Gunung Batu yang terletak tidak jauh dari curug ciherang ini. Dia gugling untuk mendapatkan informasi tentang biaya masuk ke gunung batu, maklum saja kami hanya membawa uang pas-pasan. Sedikit berdiskusi tentang keuangan kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Batu karena setelah dihitung uangnya masih mencukupi.

Memutar melewati jalan yang sebelumnya pernah kami lewati tadi hingga terdapat persimpangan ke arah gunung batu. Tidak terlalu lama kami berkendara hingga sampai ke parkiran gunung batu. Sebelum masuk, untuk memastikan sekali lagi mengenai biaya, teman saya turun dan menananyakannya kemudian memanggil kami yang menandakan bahwa biayanya masih mencukupi. Biaya parkir disini dikenakan 15000 rupiah untuk motor dan di pos masuk nanti dikenakan biaya 5000 rupiah per orang. Berjalan menuju jalur awal terlihat gunung batu yang kecil namun tampak curam. Di jalan juga kami menemukan batu besar yang akhirnya kami naiki hanya untuk melihat seperti apa diatasnya. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan medan yang kami lalui tanah berbatu yang di sebagian tempat terdapat lumpur serta kubangan bekas roda mobil, hingga tiba di pos 1, disini terdapat warung kelontongan, parkiran, musola dan toilet umum.

Tanjakan Kebo adalah tulisan yang terdapat di papan yang tertera dipohon saat kami mulai masuk ke jalur pendakian. tidak lama jalanan landai yang kami lalui hingga seterusnya jalanan yang kami lewati adalah jalanan tanah yang curam, beberapa dari kami cukup kelelahan menghadapinya sehingga harus berdiam diri sebentar. Lebih naik keatas lagi jalanan sudah berubah menjadi batu-batu besar bertanah, kami bahkan harus berpegangan dengan tali untuk naik karena sangat curam. Mendekati puncak jalanan yang dilalui menyempit dan ada jalanan yang harus membuat kami sedikit memanjat. Sampai di puncak sudah ada beberapa orang bersenda gurau disini. Di puncak batu terdapat 1 bendera indonesia yang berkibar setengah tiang, 1 plang yang bertuliskan puncak batu, 1 plakat kenangan seseorang yang meninggal karena kecelakaan saat mendaki gunung batu, dan agak menjauh terdapat 1 bendera indonesia lainnya yang berkibar penuh tertiup angin. Tidak lupa berfoto disini kemudian bersantai hingga sekitar jam 2 kami memutuskan untuk turun dan kembali ke kota depok tercinta.
pemandangan-dari-puncak-batu
view-bendera-di-puncak-gunung-batu-jonggol

Leave a Reply