Melihat Makna Simbolisme pada Candi Sukuh Yang Populer Dengan Unsur Seksualnya

Candi Sukuh merupakan peninggalan dengan ciri khas agama hindu dari abad ke 15 yang terletak di lereng Gunung Lawu, Dusun Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten  Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Pada situs ini banyak terdapaat benda arkeologi yang merupakan simbolisme dari agama hindu. Dalam agama, simbol dipandang sebagai ungkapan indrawi atas realitas yang transenden, sementara dalam sistem logika atau ilmu pengetahuan, simbol atau lambang memiliki arti sebagai tanda yang abstrak (O’Collins dan Farrugia:1996). Simbol biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berisi pesan-pesan tertentu yang sangat luas dan dapat dimaknai sesuai kepercayaan masing-masing.

Benda arkeologi yang terdapat di situs Candi Sukuh antara lain adalah bangunan candi, relief, arca dan prasasti. Bangunan Candi Sukuh memiliki bentuk yang berbeda dari bentuk-bentuk candi agama hindu pada umumnya. Susunan bangunan Candi Sukuh merupakan punden berundak-undak berbentuk bujur sangkar yang menghadap ke barat dan makin meninggi ke arah timur. Bentuk tersebut sedikit mirip dengan peninggalan suku Maya yang terdapat di Meksiko. Unsur seksualitas cukup dominan pada benda-benda arkeologi yang terdapat pada situs ini. Namun unsur-unsur seksualitas yang terdapat pada situs ini erat kaitannya dengan pendidikan, perlambangan dewa dan kepercayaan dalam agama hindu.

Melihat berbagai fenomena dan keunikan yang terdapat pada Candi Sukuh membuat saya tertarik untuk membahas simbolisme pada benda-benda arkeologi di situs Candi Sukuh. Untuk mengetahui deskripsi yang cukup lengkap dari Candi Sukuh, kamu bisa mengunjungi website perpusnas

Candi Sukuh banyak menarik minat masyarakat awam untuk dijadikan sebagai tempat pariwisata, karena terletak di tempat yang sejuk dan memiliki bentuk candi yang berbeda dari bentuk-bentuk candi pada umumnya, selain itu juga terdapat beberapa benda arkeologi yang mengandung unsur seksualitas. Hal tersebut kemudian membuat masyarakat awam beranggapan bahwa candi sukuh merupakan candi cabul, karena berbeda dengan candi lainnya, terdapat arca-arca yang menggambarkan lingga dengan bentuk yang vulgar bahkan dikutip dari blog lisa gopar, terdapat ritual untuk mengetahui keperawanan untuk para pengunjung, yaitu dengan cara melewati celah yang terdapat pada sebuah arca. Selain itu bentuk bangunan candi sukuh yang menyerupai kuil bangsa maya di meksiko membuat ciri khas tersendiri, berbeda dengan candi hindu lainnya yang ada di pulau jawa.

Benda-benda arkeologi di Candi Sukuh mengandung simbol-simbol dari agama hindu yang sampai saat ini masih digunakan untuk melakukan ritual keagamaan oleh masyarakat hindu yang tinggal di sekitar candi tersebut. Simbol-simbol tersebut banyak yang merupakan unsur-unsur seksualitas seperti phallus dan vagina yang terdapat di lantai gapura masuk situs ini. Menurut anggapan yang terdapat dalam kitab Kawi, bagian badan yang vital, seperti kepala dan alat kelamin dianggap memiliki kekuatan ghaib untuk mengusir roh jahat  yang biasa dengan istilah suwuk. Sehingga anggapan masyarakat bahwa candi sukuh adalah candi cabul sepenuhnya salah. Karena sebenarnya unsur seksualitas yang terkesan vulgar tersebut adalah simbolisme dari kesucian dan dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengusir roh jahat.

Menurut Joko Adi pada tulisannya, relief kelamin pada lantai pintu gerbang utama dan bentuk candi Sukuh itu justru mengandung pesan nilai moral dan etika serta etiket yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat yang memahaminya terkait dengan hubungan suami isteri. Perlu diingat, berdasar angka tahun 1437 M itu tidak semua orang bisa membaca dan menulis, oleh karena itu pujangga, undagi pada masanya begitu panjang dan jauh daya prediksinya untuk dapat menuangkan suatu tatanan yang bisa dimaknakan oleh masyarakat terkait dengan etika hubungan suami isteri secara fisik berupa simbol.

Adapun bentuk bangunan candi tidak ada keterkaitannya dengan bangsa maya. Dikutip dari situs daring national geographic, arsitektur candi terpengaruh oleh kebudayaan megalitik, pada masa sebelum Hindu-Buddha. Karena pada saat itu terdapat anggapan bahwa pengaruh hindu sudah semakin rendah karena masuknya islam. Namun menurut Joko Adi, Candi Sukuh dibangun dari tradisi masyarakat yang agamis. Selain itu menurut Joko Adi, Bentuk bangunan candi Sukuh bila diperhatikan dari jauh sudah merupakan bentuk reproduksi luar wanita (bisa diperhatikan dalam gambar). Itu artinya menunjukkan begitu luhur seorang wanita, oleh karena itu bagaimanapun juga wanita harus dijunjung tinggi kedudukannya. Sebagai kaum yang dianggap lemah harus diayomi, tidak disia -siakan karena juga ikut melestarikan keseimbangan generatif yang dalam hal ini disebut dengan budaya falistik.

Selain hal yang berkaitan dengan agama, candi sukuh juga memberikan gambaran teknologi dan nilai-nilai yang terdapat pada kebudyaan di zaman tersebut. Gambaran teknologi terlihat pada salah satu relief yang menggambarkan proses kegiatan di tempat pandai besi. Sedangkan nilai-nilai kebudayaan terdapat pada relief sudamala dan garudeya yang menggambarkan nilai karakter yang terdiri dari religius, jujur, kerja keras, toleransi, tanggung jawab, bersahabat/komunikatif, demokratis, peduli sosial, kreatif, disiplin, dan mandiri.

Simbolisme pada situs Candi Sukuh dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, baik dari tinjauan agama, teknologi maupun kebudayaan. Makna yang terkandung pada situs Candi Sukuh dapat dipahami dengan arti yang berbeda, misalnya seperti anggapan bahwa bangunan dibuat saat melemahnya pengaruh hindu sedangkan banyak simbol-simbol yang melambangkan kesucian dari agama hindu.

 

DISCLAIMER

Tulisan ini dipengaruhi dan bahkan sebagian merupakan kutipan dari artikel yang berjudul, CERMINAN ETIKA DALAM HUBUNGAN ANTAR-MANUSIA; Analisis pada Beberapa Ornamen Candi Sukuh yang ditulis oleh Djoko Adi Prasetyo, Dosen Jurusan Antropologi FISIP Unair, Surabaya dan referensi tambahan dari berbagai sumber lainnya.

Semua foto adalah milik Paul Riley diambil dari http://www.pbase.com/rileyuni/sukuh

Referensi:

Prassetyo, Joko Adi.”Cerminan Etika dalam Hubungan Antar-Manusia Analisis pada beberapa Ornamen Candi Sukuh”. Surabaya: Universitas Airlangga.

O’Connor, Stanley J. “Metallurgy and Immortality at Candi Sukuh Central Java”.

Hastutiningsih, Tri. 2008. “SIMBOL-SIMBOL AGAMA HINDU DI CANDI SUKUH (Studi Simbol Agama Hindu di Dusun Sukh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah)”. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Hartini., Mufida, Rina Rahma. “CERITA-CERITA DI BALIK CANDI SUKUH SEBAGAI PEMERKAYA CERITA DRAMA TRADISIONAL”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Wardani, Yuliana Kuncoro., Sariyatun., Pelu, Musa., “MAKNA SIMBOLIK RELIEF SUDAMALA DAN GARUDEYA DI CANDI SUKUH RELEVANSINYA DENGAN PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN IPS SEJARAH”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_sukuh

http://lisagopar.com/candi-sukuh-yang-kontroversial

http://ancientexplorers.com/blog/mayan-temple-in-java/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/01/rekam-jejak-siklus-manusia-di-candi-sukuh

Leave a Reply