Masjid Al-Alam Marunda, Bukti Peninggalan Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta

Masjid Al-Alam Marunda atau dikenal juga oleh penduduk setempat sebagai masjid si pitung merupakan masjid yang sudah berumur ratusan tahun, masjid ini dibangun pada abad 16. Ada sebagian masyarakat juga mempercayai masjid ini adalah masjid ghaib karena proses pembuatannya hanya 1 hari. Selengkapnya dapat anda lihat pada paper saya dibwah ini.




 Masjid Al-Alam Marunda: Bukti Peninggalan Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta

Oleh:
Muhammad Jazmi Dwi Hartono




Pendahuluan

Jakarta adalah salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara. Hal ini diperkuat dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah bercorak islam seperti masjid dan makam di daerah Jakarta sejak abad 16. Masuknya Islam ke Jakarta diawali dengan penaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa oleh pasukan Islam yang dipimpin Fatahillah. Setelah kemenangan tersebut Fatahillah mendirikan markas prajurit islam dan juga masjid di daerah Marunda. Masjid yang didirikan oleh Fatahillah dan pasukan Islam menurut penduduk setempat hanya dibangun selama satu hari yaitu Masjid Al-Alam Marunda. Masjid ini oleh Fatahillah difungsikan sebagai tempat penyusunan strategi dan benteng pertahanan pasukan Islam. Berbatasan langsung dengan laut di sebelah barat dan utara, Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid si Pitung dan menjadi kebanggan oleh penduduk setempat.

Sejarah Singkat Masjid Al-Alam Marunda

Terdapat berbagai versi mengenai sejarah didirikannya Masjid Al-Alam Marunda. Namun versi yang paling terkenal menerangkan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1527 oleh Fatahillah bersama dengan pasukannya sebagai rasa syukur atas penaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu masih dikuasai oleh Portugis. Ada juga yang mengatakan bahwa Masjid ini dibangun oleh para prajurit Sultan Agung. Tetapi menurut salah satu sesepuh Masjid Al-Alam Marunda yang bernama Haji Sambo Ishak, Masjid ini dibangun oleh Wali Songo pada tahun 1640. Menurut penuturan Haji Sambo, masjid ini juga merupakan tempat persembunyian si Pitung dari kejaran belanda, hal tersebut membuat masjid ini juga dikenal dengan nama masjid si Pitung. Beredar juga cerita bahwa masjid ini hanyalah salah satu dari sembilan masjid yang dibangun oleh Wali Songo dalam waktu semalam dan terbuat secara alamiah ( Ghaib ) itulah kenapa masjid ini diberikan nama Al-Alam.

Pada tahun 1970 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung berupa plastik pada bagian bawah atap agar terlindung dari kelembaban dan siraman air hujan, pembuatan tanggul di sisi utara masjid untuk melindungi masjid dan ancaman abrasi pantai. Masjid Al-Alam Marunda telah menjadi benda cagar budaya sejak tahun 1975 sehingga segala kebutuhan masjid ini dibiayai oleh pemerintah. Tahun 1989 masjid ini mengalami perluasan dengan tambahan dua buah serambi di bagian depan dan sisi utara masjid, serta tempat berwudhu dan toilet di sisi selatan.


Lokasi Masjid

Masjid Al-Alam Marunda terletak di tepi pantai Marunda, Utara Kota Jakarta yang berdekatan dengan Bekasi. Lokasi tepatnya yaitu di Jalan Marunda Besar RT 09 RW 01, Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Provinsi Jakarta Utara. Sebelah utara dan barat berbatasan dengan laut dan sebelah selatan dan timur berbatasan dengan pemukiman penduduk.Untuk menuju masjid ini harus melalui jalanan sempit dan cukup berliku yang dipenuhi truk container karena lokasi masjid memang berdekatan dengan kawasan peti kemas di daerah Jakarta Utara. Sekitar 300 m sebelum sampai ke masjid terdapat rumah si Pitung, setelahnya jalan yang dilalui merupakan jalanan di pinggir rawa, bangunan sekolah dan rumah penduduk hingga sampai pada lokasi masjid.



Deskripsi Bangunan Masjid

Masjid Al-Alam Marunda memiliki ukuran yang relatif kecil. Masjid ini tampak sederhana dibanding masjid pada umumnya, dibangun dengan gaya tradisonal dan memiliki corak arsitektur betawi. Bangunan masjid dikelilingi dengan pagar beton dengan cat putih di sisi utara, timur, selatan dan barat. Gerbang utama menuju halaman masjid terletak pada sisi selatan. Sedangkan bangunan masjidnya terletak di sisi bagian timur. Halaman masjid di bagian selatan dilapisi ubin berwarna merah, tempat ini berfungsi sebagai tempat shalat ketika ruangan masjid penuh. Tempat wudhu terletak di sisi selatan, di tempat wudhu ini terdapat sumur yang dahulu berfungsi untuk mengambil air wudhu. Tepat di sebelah bangunan utama masjid, terdapat makam para pengurus masjid. Untuk menghindari abrasi pantai masjid ini dibatasi dengan batu cadas.

Bangunan utama masjid berbentuk persegi berukuran 12 x 12 m menghadap ke selatan. Di sisi selatan terdapat serambi berbentuk persegi panjang dengan pintu masuk terletak di tengah. Pintu masuk ke ruang utama pada bangunan masjid terdapat di sisi selatan dan timur. Dinding serambi bagian bawah terbuat dari tembok dan bagian atas dari teralis kayu yang disusun secara vertikal. Memiliki atap berbentuk limas tumpang dua yang terbuat dari genteng.

Serambi pada masjid Al-Alam Marunda memiliki empat jendela, dua di sisi timur dan masing-masing satu di sisi utara dan selatan. Di dalam serambi terdapat pintu masuk ke ruangan utama masjid. Ruangan serambi ini dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menunggu waktu shalat. Terdpat Bedug yang disangga oleh empat buah kayu yang dibentuk menyilang di sisi kiri serambi. Pintu masuk ke ruang utama masjid terletak di tengah serambi dengan ukuran 190 cm dan lebar 70 cm.

Ruang utama masjid memiliki bentuk persegi dengan ukuran 8x8m, dan tinggi plafon yang cukup rendah yaitu hanya 2,2 m, lantai sudah dilapisi ubin yang ditutupi karpet berwarna hijau. Dinding pada ruanagn masjid terbuat dari tembok berwarna putih. Masing-masing dinding memiliki dua jendela dengan ukuran yang berbeda. Semua jendela pada ruangan ini hanya menggunakan teralis yang terbuat dari kayu bulat bergelombang dan disusun secara vertikal. Ruangan ini ditopang dengan empat buah tiang utama sebagai penyangga yang terbuat dari beton. Tinggi tiang dari lantai hingga keatas adalah 206 cm. Bagian bawah tiang berbentuk empat persegi dan pada bagian kaki terdapat umpak berukuran 85 x 85 cm dengan ketinggian 16 cm dari lantai. Tiang bagian atas berbentuk lingkaran, yang semakin ke atas semakin mengecil dan pada bagian atas terdapat susunan pelipit. Selain tiang utama, terdapat tiga buah tiang semu yang menempel pada dinding bagian barat. Tiang semu ini membentuk dua buah relung atau lingkaran di atasnya. Pada lengkungan terdapat hiasan kaligrafi dengan kalimat syahadat. Bagian atas tiang ini dihiasi pelipit, bagian tengah terdapat hiasan garis vertikal. Mihrab terletak di bagian barat ruang utama yaitu di dalam relung sebelah kanan berukuran 1.15 x 1.5 m dengan tinggi 2.1 m, sedangkan di dalam relung sebelah kiri terdapat mimbar yang terbuat dari beton dengan tiga anak tangga. Pada dinding belakang mimbar dan mihrab bagian tengahnya dihiasi dengan bentuk kelopak buang dan diatasnya terdapat ventilasi udara berukuran 33 x 53 cm.

Di sebelah timur bangunan masjid terdapat bangunan tambahan berbentuk persegi dan tidak memiliki dinding. Permukaan bangunan ini dibuat lebih tinggi sekitar 80 cm dan untuk memasuki ruangannya terdapat empat buah anak tangga di sisi barat, lantai pada bangunan ini terbuat dari ubin. Atap pada bangunan ini disangga dengan 12 tiang pada keempat sisinya. Atap bangunan berbentuk tumpang yang dilapisi genteng. Bangunan ini biasanya dipergunakan untuk pengajian. Di sebelah tenggara terdapat bangunan kecil berukuran 2 x 3 m yang berfungsi sebagai WC.


Penutup

            Masjid Al-Alam Marunda merupakan bukti perkembangan Islam di Jakarta, meskipun terdapat berbagai versi sejarah yang beredar pada masyarakat. Masjid ini ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar ataupun orang dari luar daerah, karena masjid ini memiliki daya tarik tersendiri tentang mitos pendirian yang beredar, sebagian masyarakat juga meyakini bahwa air pada sumur di masjid ini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Jika lebih diperhatikan lagi masjid berumur ratusan ini dapat menjadi salah satu tujuan wisata religi di kota Jakarta, karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, MASJID KUNO INDONESIA.

Zein, Abdul Baqir,1999, Masjid-masjid bersejarah di Indonesia.

Anandita Ayudya., Anasthasia R Y Sadrach., 2009, 99 tempat Liburan akhir pekan di pulau Jawa dan Madura.

Shahab, Alwi, MARUNDA MARKAS BALATENTARA ISLAM, http://himpunan-aidid.org/?load=baca_artikel.php&bid=16

Pardede, Dora, 2011, Mesjid Al-Alam, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Ibukota Jakarta, http://www.kompasiana.com/dorapardede/mesjid-al-alam-saksi-bisu-perjalanan-sejarah-ibukota-jakarta_550eca2fa33311ad2dba81d7

http://www.rumahruqyah.com/2015/05/masjid-al-alam-ii-dibangun-secara-ghaib.html?m=1

http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Masjid_Al_Alam


Sebenarnya saya memiliki beberapa foto Masjid Al-Alam Marunda yang saya dapat dari ebook yang beredar di internet. Jika anda ingin melihatnya bisa kontak saya.

Leave a Reply