Kebhinekaan Sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia: Perspektif Arkeologi

Indonesia merupakan Negara yang memiliki berbagai macam suku, bangsa  agama, dan ras yang tersebar di seluruh wilayahnya. Apa yang kita sebut disini sebagai “bangsa” adalah bangsa dengan kebudayaannya masing-masing, yang satu sama lain seringkali dihubungkan oleh kepentingan-kepentingan bersama dalam hal ekonomi maupun politik (Sedyawati, 1993:24).

Keragaman yang teradapat di Indonesia sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Hal ini terlihat dari temuan tulang manusia pada Situs Binangun dan Situs Leran yang terdapat di kawasan Pantai Utara, Kabupaten rembang, Jawa Tengah. Hasil analisis yang dilakukan dari 23 sampel individu rangka manusia terdapat 4 sampel yang termasuk kelompok Mongoloid, 3 sampel kelompk Austro-melanesian, dan 2 sampel dikelompokkan sebagai “Gracile Group”. Dua sampel terakhir berdasarkan ciri-ciri fisik yang ramping kemungkinan adanya kelompok atau ras lain yang tinggal di kawasan Pantai Utara Jawa ini bersama ras Mongoloid dan Australo-Melanesian. Melalui analisis itu dapat diketahui bahwa sejak tahun 500 sebelum masehi di kawasan Pantai Utara Jawa khusunya antara Kecamatan Lasem dan Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang telah diokupasi berbagai ras.

Meskipun masyarakat Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku, bangsa agama dan ras, pada kehidupan sehari-harinya mereka dapat akur, karena kebhinekaan telah muncul dan disadari sejak masa prasejarah.  “Semboyan Bhineka Tunggal Ika” Menunjukkan ciri keragaman kehidupan bangsa Indonesia, yang sesungguhnyaa berarti: Justru karena berbeda-beda maka ia satu adanya (Mattulada, 1985:47).

Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi dasar kebhinekaan di Indonesia berasal dari masa Majapahit. Diambil dari kitab Sutasoma pupuh 139 bait 5 yang berbunyi “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Kalimat yang ditulis oleh Mpu Tantular pada kitab Sutasoma itu merupakan cara menyatakan keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan kala itu. Kalimat itu ditulis untuk menumbuhkan rasa semangat dan persatuan pada masa itu. Menurut saya, kebhinekaan dapat dikatakan telah diakui dengan adanya bukti tertulis ini. Meskipun masyarakatnya majemuk namun  mereka semua adalah satu. Bangsa Indonesia.

Selain itu terdapat keragaman agama yang dapat ditelusuri adalah dengan adanya keragaman agama pada Dinasti Sailendra. Hal ini ddapat terlihat pada penggambaran relief Karmawibangga yang terdapat gambaran pendeta hindu dan bhiksu Buddha. Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu pun sudah muncul keragaman namun tetap pada satu kesatuan. Melalui keragaman agama itu dapat dilihat bahwa penguasa masa itu mempunyai sikap toleransi dalam kehidupan beragama.

Kemajemukan masyarakat sebagaimana yang ada di Indonesia adalah suatu keniscayaan yang tidak mungkin disangkal. Tidak ada cara lain bagi bangsa ini kecuali dengan berkomitmen kuat merawat keragaman menjadi sebuah kemungkin dan tidak mentolelir segala bentuk tindakan yang dapat menghancurkan tatanan masyarakat majemuk (Amirsyah 2012:51). Hingga pada masa munculnya Bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara. Kemajemukan masyarakat indonesia ini terus ditelusuri dan kemudian ditemukan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini kemudian dikristalisasi sebagai salah satu lambing Negara dengan dituliskan pada pita yang terdapat pada kaki lambang Garuda Pancasila.

Kesadaran untuk mengukuhkan “Bhineka Tunggal Ika” sebelum dikristalisasi sebagai lambang Negara telah dicetuskan dalam peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928. Pada hakikatnya sejak awal para founding fathers bangsa Indonesia telah menyadari akan keragaman bahasa, budaya, agama, suku dan etnis kita. Singkatnya bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka bangsa Indonesia menganut semangat Bhinneka Tunggal Ika, hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan persatuan yang menjadi obsesi rakyat kebanyakan (Mahfud 2009:10)

Persatuan dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa (Kansil dan C. Kansil 2006:25). Dapat disimpulkan bahwa semboyan ini merupukan kunci permersatu Bangsa Indonesia di masa kini. Kesadaran tentang keragaman dan persatuan yang sudah muncul sejak dulu ini menjadi kunci untuk mewujudkan masayarakat majemuk yang saling toleransi dalam perbedaan-perbedaan yang ada.

Keberagaman budaya, etnis, bahasa, dan tradisi bangsa Indonesia telah muncul sejak masa prasejarah. Dengan mengangkat nilai-nilai kebhinekaan terhadap keberagaman yang ada merupakan satu cara untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Melalui hal ini masyarakat majemuk dapat mengetahui bahwa sejak dulu perbedaan-perbedaan yang ada tidak menimbulkan seteru. Masyarakat majemuk Indonesia hidup berdampingan dengan harmonis.

 

Daftar Pustaka

Santiko, H. 2013. “TOLERANSI BERAGAMA DAN KARAKTER BANGSA: PERSPEKTIF ARKEOLOGI” dalam SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 1. Depok.

Kasnowihardjo, G. 2016. “KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN ARKEOLOGI DALAM PROGRAM ‘KEBHINEKAAN SEBAGAI PEMERSATU BANGSA’ ‘STUDI KASUS PADA SITUS KUBUR PRASEJARAH DI PANTAI UATARA JAWA TENGAH’”. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Lestari, G. 2015. “BHINNEKHA TUNGGAL IKA: KHASANAH MULTIKULTURAL INDONESIA DI TENGAH KEHIDUPAN SARA” dalam Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th 28, Nomor 1. Yogyakarta.

Leave a Reply