Belajar navigasi darat dalam perjalanan menuju puncak pasir geger bentang

Di malam hari yang gelap setelah selesai merakit tenda saya mencoba menerka-nerka dimana posisi saya berdiri dengan bantuan peta dan kompas, kebetulan disekitar situ ada sungai yang langsung saya jadikan objek azimuth. Setelah itu saya langsung membuka peta dan menggunakan bantuan protaktor untuk mencari sungai yang sekiranya cocok sudutnya dengan azimuth yang sebelumnya sudah diukur. Tidak sulit untuk mengetahui dimana letak saya berada sekarang karena medannya jelas terdapat jembatan dan sungai yang berbelok. Kenyataannya di pagi hari saat berdiskusi dengan mentor, posisi yang saya plot dalam peta sebagai lokasi sekarang itu merupakan sebuah kesalahan. Ternyata jembatan kecil yang saya maksud tidak ada dalam peta dan bentukan sungai telah dipengaruhi campur tangan manusia sehingga berbeda dengan yang ada dalam peta, mungkin juga perbedaan itu terjadi karena saya masih menggunakan peta terbitan tahun 1998.

Setelah badan dipanaskan, kami bersiap untuk memulai perjalanan. Sebelum memulai kami diminta untuk mengikuti mentor, menelusuri jalanan setapak hingga tiba di punggungan pada perkebenunan teh, disana kami diminta untuk mencari tahu koordinat posisi kita berada. Lama kami mencari namun tidak ada yang mengetahui hingga akhirnya mentor memberitahukan dimana kita sebenanya dan kemudian kembali menuju basecamp. Di basecamp kami mendapatkan briefing lagi dari mentor tentang perjalanan ini. Selanjutnya kami lanjut menuju Checkpoint pertama yang merupakan tanggung jawab kelompok saya untuk menunjukkan jalan kesana. Singkat cerita saya dan teman-teman bingung apakah Checkpoint yang saya tuju adalah benar, kami beberapa kali berputar di jalan yang sama akibat keraguan saya yang pada saat perjalanan ini ditunjuk sebagai penanggung jawab navigasi kelompok. Akhirnya ketika sampai di mulut sebuah punggungan, saya yakin bahwa punggungan itu lah jalan masuk kami dan merupakan checkpoint pertama, saya naik untuk memastikan dan melakukan orientasi medan, namun ternyata setelah saya turun dan ingin memberithaukan jalur tersebut, panitia baru memberitahukan bahwa kami sebenarnya disuruh mencari kertas pertanda checkpoint, saya kemudian bbingung karena di jalur tersebut tidak tampak kertas apapun. Cukup banyak waktu berlalu hingga diputuskan untuk melnjutkan pergi ke checkpoint selanjutnya.

Kami melaju dari satu checkpoint ke checkpoint lainnya yang sebenarnya adalah jalur untuk menuju ke gegerbentang. Tiap checkpoint mempunyai karakteristik tersendiri, misalnya checkpoint saya berada di mulut punggungan, checkpoint terahir berada di puncak dan lain lain. Setiap kelompok menemukan checkpoint mereka hingga sampai di checkpoint 4 kami beristirahat dan memasang tenda. Malamnya dilakukan evaluasi perjalanan, beberapa dari kami ada yang kehilangan peralatannya seperti protaktor, kompas ataupun peta yang rusak. Mentor dan Panitia kemudian memberitahu kami bahwa peralatan tersebut itu sangat penting dan sudah seharusnya kita jaga dengan benar karena jika kita sendiri dan tersesat sementara tidak membawa peralatan navigasi maka kecil kemungkinan kita akan selamat, dapat dianalogikan perlatan navigasi ini adalah nyawa kita.

Suara-suara telah terdengar, fajar telah tiba memaksa kami yang sedang terlelap untuk bangun dengan dingin yang menusuk itu. bersiap kami merpikan tenda dan memasak makanan untuk pagi dan siang hari nanti. Jam 8 kita baru mulai bergerak lagi untuk menuju checkpoint 5, checkpoint 5 merupakan tanggung jawab gabungan antara kelompok saya dengan kelompok 2. Posisi kelompok 2 berada di paling depan sementara kami di belakang mereka. Kami berhenti ketika menemukan punggungan yang menurut kami adalah punggungan CP5 namun jika dicocokkan azimuth dengan catatan pada route card yang saya miliki, sudutnya tidak sama. Hal itu membuat saya tidak yakin bahwa itu adalah punggungan yang terdapar pada peta. Orientasi medan kemudian dilakukan, saya ditemani salah satu mentor dan beberapa teman menyusur lurus ke depan menanjak dan mencari punggungan CP5. Cukup jauh dari lokasi sebelumnya saya menenmukan punggungan yang sudutnya sesuai dengan route card dan ternyata teman saya sudah ada yang turun di punggungan tersebut. Jika dilihat pada peta memang kitaharus turun 3 kontur atau kira-kira sekitar 30 meter ke bawah. Waktu yang sudah cukup sempit saat kita berada disini membuat pencarian tidak maksimal. Dengan terpaksa kami harus melanjutkan perjalanan dan kelompok saya kembali tidak menemukan checkpoint.

perjalanan-2_5414_compressed

Karena hanya kelompok saya yang belum menemukan checkpoint akhirnya diputuskan bahwa kelompok kami diberi kesempatan memandu menuju CP6. Saya kemmudian sedikit mendapatkan asa, karena jika dilihat dari peta CP6 berada di puncak geger bentang dan dalam fikiran saya pasti mudah menemukannya. Kami berjalan terus mengikuti jalur yang sudah ada hanya saja vegetasi yang rapat membuat carrier saya beberapa kali tersangkut pada ranting berduri. Semakin lama trek yang kami lalui semakin ekstrim, dilihat dari kecuramannya ataupun medan yang dilalui. Setelah melewati tanjakan yang cukup curam akhirnya kita sampai di daerah landai yang lebih luas dibanding area landai sebelumnya, disana juga terdapat patok. Setelah mengamati dengan cepat saya memutuskan untuk menanggalkan carrier dan terus maju melakukan orientasi medan, tidak lama teman saya muncul ikut menyusuri igir-igir ini, setelah cukup jauh saya merasa bahwa tidak ada lagi daerah landai yang cukup luas dan seharusnya temppat tadi adalah puncaknya, maka saya memutuskan untuk kembali ke tempat tadi.

Tiba di tempat tadi, saya lihat mentor dan panitia telah memasang flysheet membuat keyakinan saya semakin besa bahwa memang sebenarnya kita telah tiba di puncak pasir gegerbentang, tapi kenapa saya belum menemukan kertas checkpointnya? apakah saya kembali gagal menemukan kertaas tersebut? panik kembali melanda diri saya, rasanya benar-benar kecewa. Mentor kemudian kembali memberikan instruksi untuk mengecek kembali area landai di belakang dan ternyata disana sudah ada teman saya yang lain dan sudah mengetahui lokasi kertas CP tersebut, saya langsung mengambilnya dan membawanya dengan penuh kebahagiaan. Senang sekali memang rasanya, bukan karena kertasnya, namun lebih karena mengingat bagaimana proses menemukan kertas ini, ditengah keputus asaan dan kebimbangan saya memilih untuk tidak menyerah dan pada akhirnya menemukan kertas tersebut.

perjalanan-2_5998_compressed

Leave a Reply