Asyiknya menjadi mahasiswa arkeologi!

Masih teringat tentang bagaimana perasaan ini ketika baru menjadi mahasiswa arkeologi. Kala itu saya senang sekali, lantaran dapat kuliah di jurusan ini. Namun, tidak lama saya merasakan kesenangan itu. Saya mulai bosan. Selain itu juga mulai memikirkan tentang apa esensi dari yang saya pelajari ini. Tidak ada masa depan yang cerah dalam penglihatan. Saya mulai memikirkan apa yang harus saya lakukan.

Semester pertama usai. Pada semester kedua saya mencoba memulai sebuah bisnis. Bisnis import barang dari china sesuai dengan pengalaman yang saya punya. Kehidupan kala ini hanyalah pulang-pergi depok-bekasi. Habis kuliah lalu kembali mengurus bisnis ini.


Kuliah berjalan biasa saja. Tanpa terasa saya sudah menghabiskan waktu. Hingga semester 3 datang. Bisnis saya pada semester ini mulai kurang terurus. Sebab saya sibuk mencari kesibukan baru. Pada semester ini saya kembali mendalami ilmu yang saya pelajari. Tetap saja hal itu hanya sementara. Setelahnya saya hanya datang dan menghabiskan hari di bangku kuliah. Tanpa benar-benar mengkaji apa yang sedang saya pelajari.


Semester empat tiba. Waktu saya banyak dihabiskan untuk proses pendidikan di sebuah organisasi. Alhasil, kuliah saya kurang memuaskan semester ini. Banyak bahan atau tugas kuliah yang tidak terdokumentasi. Sudah pasti IP saya turun walaupun sedikit.


Ketika liburan antara semester 4 dan 5. Saya dan teman-teman melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Jambi. Disinilah gairah sebagai mahasiswa arkeologi mulai tergugah. Kami melakukan ekskavasi di Kawasan Cagar Budaya Muarojambi. Ekskavasi merupakan metode arkeologi yang dilakukan untuk melakukan pengumpulan data. Kegiatan selama KKL adalah mengumpulkan data di pagi hari hingga petang. Malam hari dilakukan pembuatan laporan, presentasi, ataupun kuliah.


display alat ekskavasi

Display Alat Ekskavasi


Ekskavasi menggunakan berbagai macam peralatan. Adapun alat mengupas terdiri dari Sudip, Cetok dan Petel. Pemilihan alat yang digunakan tergantung dari karakteristik tanah dan sebaran temuan. Asyiknya, saya mendapatkan tempat ekskavasi yang dipenuhi bebatuan dan akar. Sehingga seluruh alat terpakai saat pengupasan tanah.


Mula-mula saya menggunakan sudip untuk mencongkel fragmen bata pada permukaan tanah. Sudip adalah alat gali yang dibuat dari bilah bambu dengan panjang sekitar 15-20 cm dan lebar sekitar 5-10cm. Salah satu ujung dari bilah bambu kemudian dibuat runcing dengan ukuran 1-5cm. Penggunaan alat ini sangat mudah bahkan untuk orang awam sekalipun. Setelah habis fragmen bata dan tersisa permukaan tanah saja, dilakukan penggantian alat. Karena tujuan belum tercapai saya masih harus terus mengupas tanah. Kali ini menggunakan petel. Petel secara bentuk dapat dikatakan mirip dengan cangkul/pacul. Namun dengan ukuran yang lebih kecil. Ujung besi petel dibuat tajam. Tujuannya agar lebih mudah dalam mengupas tanah. Ketika dirasa tanah sudah datar saat dikupas dengan petel, selanjutnya adalah meratakan permukaan tanah. Inilah saatnya cetok digunakan. Cetok adalah alat yang umumnya digunakan tukang bangunan ketika meratakan semen. Namun cetok arkeologi memiliki bentuk yang berbeda. Besi cetok dibuat membentuk segi empat asimetris.


Perekaman Data Arkeologi

Perekaman Data Arkeologi


Selain alat, yang tidak kalah menarik adalah teknik perekaman data. Untuk merekam data dilakukan pengupasan tanah dengan pembuatan lot. Pembuatan lot merupakan cara pengupasan tanah yang dilakukan ketika mempunyai suatu tujuan dan berhenti setelah tujuan itu tercapai. Data direkam dengan menggambar, memotret foto, mengukur, dan mencatat gejala-gejala yang ada saat sedang dilakukan pengupasan.


Tidak hanya bekerja di lapangan. Pekerjaan tetap asyik di basecamp. Disini saya menyusun data dalam bentuk laporan, gambar, ataupun foto. Setelah melakukan pekerjaan dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi mengenai hasil pengumpulan data di lapangan. Sehingga dapat diketahui kendala yang terjadi dan diberikan solusi. Melalui KKL, keseruan sebagai mahasiswa arkeologi mulai terasa.


Semester 5 kini saya jalani. Kuliah, Organisasi, Bisnis, dan Bekerja saya coba lakukan di semester ini. Pada semester ini saya semakin menyadari asyiknya kuliah di arkeologi. Apalagi ketika sedang mengkaji hal baru yang belum diketahui. Memang saya belum menjadi orang yang cerdas di bidang ini. Tapi saya menyadari banyak sekali yang perlu dikaji.


Belakangan ini saya sedikit mempelajari arkeologi maritim dan laporan survei arkeologi. Arkeologi maritim merupakan kajian yang cukup jarang diminati. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan penggunaan teknologi untuk mendeteksi kapal karam. Satu kali saya juga mengunjungi museum di gedung mina bahari. Museum itu berisi koleksi kemaritiman paling banyak berasal dari cirebon. Hal lain yang beberapa kali saya baca adalah laporan survei arkeologi yang dilakukan di beberapa tempat. Laporan survei di gunung penanggungan pada tahun 1976 merupakan favorit saya. Pada laporan ini terdapat deskripsi verbal dan piktorial hasil survei. Sepengetahuan saya pada gunung ini terdapat beberapa candi yang ditemukan oleh KAMA UI. Ingin sekali mengunjungi tempat ini. Tidak lain hanya untuk merasakan asyiknya menjadi mahasiswa arkeologi!


 

DSC06121

Keadaan Awal Kotak

akhir

Setelah dilakukan Ekskavasi, terdapat susunan bata yang diduga merupakan struktur pagar.

Leave a Reply